Untuk mempersulit pelacakan, ponsel serta KTP korban juga dibuang di wilayah Kota Semarang. Barang-barang ini pun sudah didapatkan Polres Semarang.
"Membuang handphone korban di wilayah Kota Lama. KTP-nya juga dibuang di wilayah Dokter Cipto. Itu semua sudah didapat sama (Polres) Semarang," jelas Sriniti.
Setelah pembunuhan itu terjadi, pelaku pun pergi dari kos tersebut. Ia sempat ke tempat seorang temannya sebelum kembali ke Blora.
"Mengemasi barang-barangnya, ya sempat ke temennya dulu, habis ke temennya dia pulang ke daerah asal," beber Sriniti.
Very diketahui menghabisi Mozza di sebuah kamar kos di kawasan Candisari, Kota Semarang. Pengurus RW setempat mengungkap Very baru menempati kamar itu selama dua pekan.
"Kurang familiar dengan muka ini (Very) karena dia cuma dua minggu (tinggal di kos)," kata Sekretaris RW 14, Didik, ditemui di rumahnya yang tak jauh dari kosan.
Didik menceritakan Very sudah melunasi sewa kamar itu. Saat ditanya, pelaku hanya mengaku tengah mencoba untuk tinggal di sana.
"Katanya yang ini ceritanya pengin coba dulu. Makanya dia langsung bayar, cuma nggak kasih KTP," ucapnya
Very dikatakan tidak berpamitan saat tidak lagi tinggal di kos. Barang-barangnya sudah tidak ada.
"Sepertinya nggak (pamitan). Iya (barangnya sudah tak ada)," jawabnya.
Very melanjutkan, tetangga kos sempat mendengar keributan di dalam kamar kos Very.
"Dari cerita tetangga kamarnya, saat itu terdengar keributan sesaat (di kamar yang disewa Very)," kata Didik ditemui di rumahnya tidak jauh dari kosnya, Sabtu (5/9).
Didik mengatakan penghuni kos hanya menganggap pertengkaran sejoli. Tetangga kamar itu tidak paham betul duduk perkaranya.
"Dia (tetangga kamar Very) pikir 'alah orang pacaran kamar sebelah'. Kalau tetangga kamar itu nggak paham persoalannya apa," ungkapnya.
Didik melanjutkan, Very ternyata pernah meminjam lakban kepada tetangga kosnya saat terdengar cekcok di kamarnya. Pada momen itulah, diduga Very membunuh Mozza.
"Dari cerita tetangga kamarnya, saat itu terdengar keributan sesaat (di kamar yang disewa Very). Dia (tetangga kamar Very) pikir 'alah orang pacaran kamar sebelah'. Kalau tetangga kamar itu nggak paham persoalannya apa," kata Didik.
Saat terdengar kegaduhan, Very meminjam lakban ke tetangga kamarnya. Namun saat dikembalikan, lakban tersebut sudah habis.
"Setelah itu si pelaku pinjam lakban ke tetangga kamarnya. Lakban itu tahu-tahu habis," jelas Didik.
Tetangga kos tersebut belum pernah berinteraksi dengan Very. Dia berhubungan dengan Very saay meminjamkan lakban.
"Akhirnya ada interaksi saat pinjam lakban," sebut Didik.
Informasi Didik ini dibenarkan A, tetangga kos pelaku. Ia mengaku mendengar keributan di hari Mozza dibunuh.