"Dari pengolahan paving block ini saya beberapa kali eksperimen dan gagal sampai akhirnya saya menemukan komposisi yang tepat," Ia membeberkan.
Komposisi yang kini digunakan terdiri atas plastik, oli bekas, dan pasir. Sekitar empat kilogram plastik dibutuhkan untuk membuat satu paving block murni. Jika dicampur pasir, kebutuhannya dapat berkurang menjadi sekitar tiga kilogram.
Produksi tersebut masih sepenuhnya dikerjakan secara manual. Plastik dipanaskan di dalam drum menggunakan tungku dan kayu bakar. KDMP Cipelang belum memiliki mesin pemanas, alat pencacah, maupun kendaraan khusus pengangkut sampah. Mereka masih meminjam kendaraan milik desa atau RT secara bergantian.
Keterbatasan itu membuat kapasitas produksi belum sebanding dengan volume limbah yang dikumpulkan. Padahal, pesanan mulai datang dari tetangga, Pemerintah Desa Cipelang, hingga Kementerian Keuangan. Paving block dijual seharga Rp160 ribu per meter persegi.
Rita berharap bantuan mesin dapat mempercepat pekerjaan yang selama ini mengandalkan tenaga manusia. Dengan peralatan memadai, ia memperkirakan produksi dapat mencapai 50 hingga 100 paving block dalam sehari.
"Kami bahkan optimis akan punya pabrik paving block sendiri nantinya," katanya.
Mimpi Rita tidak berhenti pada satu produk. Ia ingin mengembangkan batako, roster, hebel, hingga genteng dari sampah plastik. Gagasan genteng muncul karena plastik murni tidak menyerap air. Menurut dia, sifat tersebut dapat dimanfaatkan untuk mencegah rembesan air hujan.
"Itu mimpi kami selanjutnya yang mudah-mudahan bisa terealisasi. Selain kami punya pabrik paving block, kami juga ingin punya pabrik genteng di tempat yang sama," ujarnya.