Hingga Oktober 2026, sebanyak 666.985 kasus telah ditemukan dan dilaporkan atau 61 persen dari target 972.000 kasus. Dari jumlah itu, 599.425 pasien atau 90 persen dari target sudah memulai pengobatan.
Penemuan kasus ini ditopang penyediaan portable X-ray dan mesin tes molekuler Near Point of Care (NPOC) di ribuan puskesmas.
Skrining TB juga diintegrasikan dengan layanan CKG dan dibawa langsung ke tempat warga berkumpul. Sebanyak 40.910 warga binaan di lapas dan rutan serta 24.623 santri di pondok pesantren telah diperiksa.
Kemudian, Kemenkes turut menggandeng kementerian/lembaga lain dan sektor swasta, termasuk memeriksa 8.914 karyawan dan mitra layanan transportasi daring seperti Gojek dan Grab.
Dari sisi pengobatan, Kemenkes memperpendek durasi terapi melalui regimen obat modern. Indonesia juga ikut dalam uji klinis tahap 3 kandidat vaksin TB M72 yang ditargetkan mulai diproduksi pada awal 2029.
"Dulu TB ini minum obatnya panjang sekali, bisa sampai lebih dari 1 tahun dia minum obat setiap hari. Sekarang turun jadi 12 bulan, turun lagi jadi 6 bulan, yang terakhir kita sudah bisa ada yang bisa 4 bulan. Jadi dengan demikian, obat-obatan TB-nya makin lama makin mudah diterima oleh masyarakat," pungkas Menkes.