NADIKABAR.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menggelar Nostalgia Dugderan dan Bazaar Expo Kampung Kauman Quran untuk menyambut pelaksanaan MTQ Nasional XXXI 2026. Para khalifah dari berbagai daerah bisa mencoba kuliner dan mengenal tradisi Dugderan.

Dugderan Mini tersebut digelar di Aloon-aloon Kauman, sekitar Masjid Agung Semarang mulai hari ini hingga Jumat (18/9/2026) depan setiap pukul 15.00-21.00 WIB. Setiap sorenya, akan ada pertunjukan seni budaya yang dilanjutkan perform Masjid Agung Kauman pada malam harinya.

Agustina mengatakan, Aloon-aloon Masjid Agung Semarang tak hanya menjadi tempat kegiatan keagamaan, tetapi juga dapat berkembang sebagai pusat budaya Kota Semarang.

"Saya berharap suatu hari kita mencapai pada sebuah titik, di mana ada peralatan yang terus-menerus, setiap event tertentu. Supaya kita menggunakan alun-alun ini sebagai pusat budaya. Bagaimana caranya nanti kita pikirkan bersama," kata Agustina dalam pembukaan Nostalgia Dugderan dan Bazaar Expo Kauman Kampung Qur'an, Minggu (13/9/2026).

Menurutnya, keberadaan pusat budaya dapat ikut menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan tersebut. Dia mencontohkan kegiatan seni yang membutuhkan ruang latihan dan pembinaan di sanggar-sanggar.

"Dan saya berharap sekali lagi alun-alun Masjid Agung Kota Semarang ini menjadi pusat kebudayaan masyarakat Semarang," ujarnya.

Agustina mengatakan, pelaksanaan MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang ini juga tak hanya menjadi kegiatan keagamaan. Tapi juga menjadi momentum untuk menunjukkan keberagaman dan persatuan masyarakat Kota Semarang.

"Karena sepertinya perhelatan ini sudah tidak lagi dilihat semata-mata sebagai sebuah acara keagamaan. Tetapi sebuah momen yang menjelaskan bahwa cita-cita kemerdekaan masih tetap berada di benak kita," kata Agustina.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari menambahkan, Dugderan Mini ke depannya akan menyajikan atraksi, pertunjukan, dan aneka macam kuliner khas Kota Semarang.

"Dugderan itu kan ciri khas Kota Semarang dan hanya ada di Kota Semarang ini," kata wanita yang akrab disapa Iin itu.

Ia menyebut, Dugderan juga menjadi ajang yang menunjukkan bahwa Kota Semarang merupakan kota toleransi, sehingga nantinya pada Jumat (18/9) juga akan ada Festival Kirab Dugderan dalam skala yang lebih kecil.

"Karena Dugderan tidak hanya kaum muslim saja, tetapi dari berbagai umat beragama ikut meramaikan, sehingga nanti puncaknya di tanggal 18 akan ada kirab Dugder yang digelar Kota Semarang. Hampir seperti Kirab Dugderan tapi dalam versi yang lebih kecil lagi," terangnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Badan Pengelola Masjid Agung Semarang, Khoirul Ikhsan mengatakan, Nostalgia Dugderan juga menjadi momentum untuk menjaga tradisi yang telah melekat dengan kawasan Masjid Agung Semarang.

"Ini suatu sejarah. Dugderan itu tidak lepas dari masjid. Ini suatu yang sangat sinergi tim redaksi ulama dan umat, tim redaksi ekonomi dan agama," kata Khoirul.

Dalam kegiatan Dugderan, terdapat pula sejumlah makanan tradisional khas Kota Semarsng. Para pengunjung juga dihibur dengan lantunan selawat.

"Paling tidak kegiatan nostalgia Dugderan ini supaya mengingatkan tiap generasi, supaya tiap tahun itu harus diadakan," ujarnya.

Kembalinya suasana Dugderan juga disambut baik para pedagang. Denny (47), salah satu penjual ketan biru, kue coro, dan telur petis bumbon itu mengaku senang karena sejumlah menu tradisional yang biasanya hanya muncul saat Dugderan kembali bisa dijual.

"Kami sangat senang. Dari menu-menu yang harusnya adanya setahun sekali jadi kita bisa masak, paling nggak ada Dugderan lagi, ramai lagi," kata Denny.

Untuk kegiatan kali ini, dia baru menyiapkan sejumlah menu seperti petis bumbon dan ketan gula. Namun, jika pelaksanaan Dugderan berlangsung lebih panjang, dia berencana menambah menu lainnya.

"Biasanya kalau kita Dugderan yang mau puasa itu komplit. Ada babat gongso, ada coro santen, gitu. Macam-macam," ujarnya.

Menurut Denny, menu-menu tradisional yang jarang tersedia memang memiliki peminat tersendiri. Dia berharap, kedatangan peserta MTQ Nasional dari berbagai daerah dapat memperkenalkan kuliner khas Semarang kepada masyarakat luar kota.

"Jadi lebih banyak pembeli, jadi tahu di sana ada ini, di sini ada ini. Jadi ini bisa memperkenalkan kuliner Semarang ke masyarakat yang dari luar kota," katanya.