Seiring peningkatan kebutuhan belanja pada sisa tahun, Bank Danamon memproyeksikan defisit fiskal 2026 mencapai 2,89 persen PDB, sedikit lebih lebar dibandingkan proyeksi pemerintah sebesar 2,85 persen PDB.
Irman memperkirakan percepatan belanja program prioritas serta subsidi dan kompensasi energi akan menjadi faktor yang meningkatkan kebutuhan belanja hingga akhir tahun. Namun, Danamon menilai pelebaran defisit tersebut masih dapat dikelola dari sisi pembiayaan dan likuiditas.
"Pelebaran defisit yang diperkirakan masih dapat dikelola dari sisi pembiayaan dan likuiditas. Pembiayaan anggaran telah mencapai Rp474 triliun atau 68,7 persen dari rencana tahunan, sementara keseimbangan primer masih mencatat surplus," ucap dia.
Keseimbangan primer APBN yang menggambarkan selisih pendapatan negara dengan belanja negara di luar pembayaran bunga utang hingga Agustus masih mencatat surplus Rp154 triliun.
Pemerintah dalam proyeksi APBN 2026 memperkirakan pendapatan negara mencapai Rp3.208,1 triliun dan belanja negara Rp3.942,4 triliun hingga akhir tahun. Dengan proyeksi tersebut, defisit diperkirakan Rp734,3 triliun atau 2,85 persen PDB.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebelumnya menyatakan kinerja APBN hingga Agustus tetap berada pada jalur yang direncanakan, ditopang keseimbangan primer yang positif dan defisit yang masih terkendali.