NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Luar Negeri era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Dino Patti Djalal, mewanti-wanti pemerintah mengenai penurunan status pasar modal RI oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Dalam unggahan di akun Instagramnya, Dino menyampaikan bahwa keputusan MSCI menurunkan status pasar modal Indonesia ke level standalone market perlu disiasati, bukan dilawan.
Dino menjelaskan MSCI merupakan organisasi non-pemerintah yang netral, yang menjadikan kepercayaan sebagai modal dasarnya.
MSCI menerapkan tolak ukur yang sama bagi semua negara, termasuk China, India, Korea Selatan, Brazil, dan lainnya, tanpa ada kepentingan, apalagi konspirasi.
Oleh sebab itu, keputusan MSCI menurunkan level pasar saham Indonesia mengindikasikan adanya benih-benih erosi kepercayaan di kalangan pengusaha.
"Belakangan ini, benih-benih erosi kepercayaan sudah mulai kelihatan di kalangan pengusaha, baik di luar maupun di dalam negeri. Dan erosi kepercayaan di dalam negeri sudah terasa di pengusaha papan atas, menengah, dan bawah," ujar Dino di akun media sosialnya @dinopattidjalal, Sabtu (24/10).
"Kalau Presiden tidak mencium gejala ini berarti beliau tidak mendapat informasi yang sebenarnya mengenai kondisi di lapangan. Saran saya, lebih baik mengobati erosi kepercayaan ini dari awal ketimbang menunggu sampai sudah tidak tertolong lagi," lanjut Dino.
Dino menuturkan MSCI tidak seperti IMF yang dulunya mempunyai agenda ekonomi tertentu dan bisa dipengaruhi kepentingan politik pemerintah tertentu.
Karena independensi ini lah para investor global menjadikan MSCI sebagai acuan utama dalam melihat pasar saham.
Dino mengingatkan bahwa Indonesia pernah diberi indeks tinggi oleh MSCI sebesar 1,2 persen. Namun, dengan kriteria yang sama, posisi Indonesia kini jatuh ke klasifikasi terbawah.
Menurut Dino, situasi saat ini bukan pertandingan adu jotos dan bukan pula permainan gagah-gagahan. Sehingga, ia menegaskan pemerintah justru harus mendengar MSCI layaknya mendengar nasihat wasit yang harus disiasati.
"This is not a game about macho nationalism. Pertarungan di dunia militer sangat beda dari permainan dunia finance," kata Dino.
"Percuma kita gagah hari ini dan sejuta buzzer dikerahkan untuk memaki-maki MSCI dan berteori konspirasi, tapi besok rupiah tumbang ke level Rp22.000, investor kabur, kepercayaan runtuh, ekspor anjlok, harga barang naik, daya beli melemah, rakyat sengsara, dan pemerintah pun bisa gawat," tambahnya.
Dino memperingatkan masalah keuangan tidak boleh diremehkan pemerintah. Ia menyinggung peristiwa saat pemerintahan Presiden Soeharto tumbang akibat krisis moneter yang berubah meluas menjadi multikrisis.
"Yang menumbangkan pemerintah Soeharto, yang waktu itu jauh lebih kuat dari pemerintah sekarang, bukan invasi asing atau kudeta militer, tapi krisis moneter yang berubah menjadi multi krisis," singgung Dino.
"Krisis ekonomi, krisis sosial, krisis keamanan, krisis legitimasi, dan krisis politik," paparnya.
Pada kesempatan yang sama, Dino juga mengingatkan bahwa China pernah berada di posisi ditolak tiga tahun berturut-turut ketika berusaha memasuki level emerging market di MSCI.
"Namun Tiongkok merespons dengan terbuka, menyesuaikan dengan standar MSCI tanpa memaki-maki atau defensif, dan kemudian mereka berhasil masuk di tahun 2018, naik kelas," ujar Dino.
Dino menawarkan sejumlah solusi yang bisa dipertimbangkan pemerintah Indonesia untuk mengatasi situasi ini.
"Jalankan diskusi intensif dan tertutup dengan MSCI dengan target bulan Juni 2027 skor Indonesia bisa kembali membaik insya Allah mengarah ke satu persen sama dengan Malaysia yang skornya 0,92 persen atau juga Thailand yang skornya 0,97 persen," kata Dino.
Ia meminta agar diskusi tersebut dijalankan serius sebagaimana "nasabah meyakinkan kreditor".