"Kemarin saya ketemu satu kepala perwakilan. Dia bilang, 'Pak Dino, dulu dana untuk promosi Indonesia di luar negeri itu Rp6 miliar setahun untuk kantor saya. Sekarang hampir nol'," kata Dino.
Ia juga mencontohkan kegiatan resepsi diplomatik yang biasanya digelar untuk mempererat hubungan dengan para mitra di negara tempat perwakilan Indonesia bertugas. Kegiatan tersebut, sambung Dino, kini terkendala ketersediaan anggaran.
"Untuk resepsi diplomatik misalnya, kita kan bangga, sekali setahun mengundang resepsi diplomatik. Sekarang sudah tidak ada dananya," ujarnya.
Dino menilai kondisi tersebut dapat membatasi ruang gerak perwakilan Indonesia dalam mempromosikan kepentingan nasional dan membangun hubungan dengan negara lain.
"Intinya, kita harus aktif, tetapi harus punya sumber daya untuk melakukannya. Dan sayangnya, ini sesuatu yang belum saya lihat saat ini," katanya.
Menurut Dino, pemerintah perlu memastikan diplomasi Indonesia didukung oleh sumber daya yang memadai agar Indonesia dapat mempertahankan kredibilitas sekaligus memaksimalkan posisi strategisnya di tengah persaingan global.