"Lingkungan bisnis berubah sangat cepat dan keras. Untuk bisa hidup dan tumbuh secara berkelanjutan, BPD tidak punya pilihan selain memperkuat daya tahan internal dan meningkatkan keunggulan kompetitifnya di pasar," kata Mas'ud.

Isu lain yang digarisbawahi Mas'ud adalah wacana perpindahan pengelolaan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN). Ia menyebut, rencana pengalihan ke jajaran bank Himbara maupun melalui Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih sempat memicu diskusi hangat di tingkat direksi dan komisaris bank daerah.

Mas'ud mengingatkan bahwa urusan pembayaran gaji bulanan ASN merupakan hal yang sangat sensitif, baik dari sisi ketepatan waktu maupun kualitas pelayanan.

Keterlambatan pembayaran, meski hanya dalam hitungan jam, berpotensi memicu ketidakpuasan di kalangan aparatur negara.

Untuk itu, pengelolaannya membutuhkan kesiapan sistem, kapasitas SDM, serta pengalaman tata kelola keuangan perbankan yang matang.

Dinamika ini mendorong BPD untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada skema bisnis tradisional, melainkan segera bertransformasi mengubah paradigma usahanya.

"Mengelola bank modern bukan sebatas urusan akuntansi, penyaluran kredit, atau mengejar laba jangka pendek. Lebih dari itu, BPD wajib mengambil peran utama sebagai pusat ekosistem pembayaran digital di daerahnya sendiri," tutur Mas'ud.

Strategi tersebut dapat diwujudkan lewat penguasaan sirkulasi keuangan daerah secara terintegrasi, mulai dari digitalisasi pajak daerah, retribusi, hingga transaksi di pasar-pasar tradisional.

Dengan memegang kendali atas ekosistem transaksi lokal, Mas'ud optimistis bahwa perpindahan rekening gaji tidak serta-merta menggoyahkan likuiditas bank daerah.

Ia menegaskan, ukuran keberhasilan tertinggi BPD adalah menghadirkan manfaat nyata terhadap perekonomian lokal.

Capaian aset, pertumbuhan laba, dan penerapan Good Corporate Governance (GCG) yang berkelanjutan menjadi tolok ukur utama dalam menjalankan fungsi intermediasi, baik untuk membiayai UMKM maupun sektor industri dan jasa di daerah.

"Tugas utama jajaran pimpinan bank adalah bertahan sambil terus melaju dan bangkit di tengah ketidakpastian. Corporate plan yang disusun hanya akan menjadi dokumen formalitas jika manajemen tidak lincah memitigasi risiko dan merespons perubahan zaman," tutup Mas'ud.