Dalam kesempatan yang sama, pengamat dari Universitas Batam Fendi Hidayat menilai Kepulauan Riau memiliki peluang strategis dalam pengembangan ekonomi biru melalui perikanan tangkap, budi daya laut, industri pengolahan, serta perdagangan dan konektivitas maritim.
Menurut dia, pengelolaan potensi tersebut secara terarah dapat memperkuat perekonomian daerah sekaligus meningkatkan kontribusi sektor perikanan terhadap ketahanan pangan nasional.
"Pengembangan ekonomi biru dan Lumbung Ikan Nasional membutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, organisasi kepemudaan, pelaku usaha, nelayan, koperasi, serta masyarakat pesisir," kata Fendi.
Ia menjelaskan pengembangan Lumbung Ikan Nasional membutuhkan sistem perikanan terintegrasi, mulai dari produksi dan pendaratan ikan hingga penyimpanan, pengolahan, serta distribusi ke berbagai wilayah.
Ketersediaan pelabuhan perikanan, fasilitas penyimpanan berpendingin (cold storage), dan jaringan distribusi antarpulau dinilai penting untuk menjaga kualitas hasil tangkapan sekaligus meningkatkan daya saing produk perikanan.
Dengan dukungan infrastruktur dan industri pengolahan, hasil laut diharapkan tidak hanya dijual sebagai komoditas mentah, tetapi juga dikembangkan menjadi produk bernilai tambah yang membuka lapangan kerja dan peluang usaha.
Sebagai gambaran potensi daerah, Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Riau pada November 2025 menyebut produksi ikan di provinsi tersebut rata-rata mencapai sekitar 339 ribu ton per tahun, ditambah 39 ribu ton dari sektor budi daya.