Berbagai evolusi GAK di masa lampau akan memberikan konteks untuk mengukur dan menafsirkan lanjut pertumbuhan di masa depan. Berbagai hal baik dari segi ukuran maupun bentuk tubuh GAK harus diperhatikan.

Setelah kejadian 2018, tubuh GAK berbeda. Untuk mengetahui bagaimana stabilitas GAK secara menyeluruh di masa depan, ilmuwan perlu mencari tahu soal laju pertumbuhan dan bentuknya, serta sifat dan proses yang memengaruhi batuan di bawah permukaan.

Aktivitas terbaru GAK di awal September 2026 juga perlu ikut diperhatikan. Komposisi magma dan perilaku naiknya magma perlu diuji untuk mengetahui apakah aktivitas tersebut selaras dengan perilaku sebelumnya.

Watt menyimpulkan seluruh tahapan evolusi GAK telah dipahami secara sangat rinci. Mulai dari pertumbuhannya hingga peristiwa runtuhnya tubuh gunung api pada 2018 dan perkembanganya setelah itu.

"Hal ini memungkinkan dilakukannya evaluasi terhadap aktivitas di masa mendatang dengan mempertimbangkan pola perilaku gunung api tersebut di masa lampau baik dari segi gaya, frekuensi, dan skala letusan, maupun dari aspek kimia serta kondisi magma di bawah permukaan," katanya.

"Pada gilirannya, hal ini menjadi landasan untuk mengidentifikasi perubahan perilaku serta memantau pertumbuhan gunung api tersebut di masa depan," tegas Watt.