NADIKABAR.COM — Ratusan siswa dan guru SMAN 1 Lasem, Rembang, keracunan usai menyantap menu makan bergizi gratis (MBG). Imbasnya operasional SPPG Soditan, Lasem, dibekukan sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN)
"Belum ada laporan lain selain dari Smanela, untuk status hari ini SPPG Soditan disuspend dari BGN. Diliburkan sampai ada surat tugasnya lagi untuk operasional. Itu belum tahu belum tahu dari BGN tidak ada kepastian sampai kapan," kata Kepala SPPG Soditan, Achmad Sholeh Syarifudin, saat ditemui NadiKabar di lokasi SPPG Soditan, Jumat (4/9/2026).
Soleh menjelaskan sebelum makanan didistribusikan ke SMAN 1 Lasem pada Rabu (2/9), pihak SPPG telah melakukan uji organoleptik atau pemeriksaan indra. Hasilnya menyatakan menu MBG tersebut layak konsumsi.
"Distribusikan MBG ke Smanela itu jam 11.00 WIB, sebelum itu kita memberikan namanya organoleptik kepada PIC kami dari SPPG juga ikut mencicipi, alhamdulillah untuk ayam nasi dan lalapan dan sambal serta semangka itu bagus, terus kita antarakan ke Smanela. PIC juga mencicipi dan di orgaoleptik juga sudah ditulis dari Smanela nilainya bagus, tetapi memang karena siswa-siswa itu cuaca hari ini sedang banyak diare terkait dengan sistem imun tubuh itu juga berpengaruh dengan siswa terhadap makanan," jelasnya.
"Terus sebelum makanan MBG itu dimakan anak-anak itu juga kan istirahatnya ada dua, ada istirahat pertama dan istirahat ke dua. yangb pertama itu klan kita tidak tahu siswanya makan apa minum apa itu nggak tahu," sambung Soleh.
Pihak SPPG mengaku baru mendapatkan kabar adanya dugaan keracunan tersebut pada Kamis (3/9) pagi. Pihaknya mengaku langsung berkoordinasi dengan sekolah.
"Kemarin pada saat kita langsung ke Smanela karena kita diberi informasi itu hari Kamis pagi. Karena menunya Rabu, Kamis pagi kita diberitahukan ada semacam kejadin tersebut, kita langsung ke Smanela. Setelah itu kita ketemu ibu Kepsek karena memang kita nggak tahu ibu kepsek mungkin khawatir atau apa terus siswanya semua dipulangkan. Sebelumnya itu layak konsumsi karena sebelumnya ada uji organoleptik," ujarnya.
Saat penanganan di lokasi, Soleh menyebut petugas dari puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) sebenarnya sudah bersiap membawa para siswa yang bergejala ke fasilitas kesehatan. Namun, kendala penanganan berasal dari siswa sendiri.
"Ketika kita informasikan ke puskesmas, puskesmas mau datang ke Smanela. Karena sudah ada ambulans juga dari puskesmas, juga dari DKK (Dinas Kesehatan Kabupaten), tetapi para siswa itu tidak mau masuk ke ambulans. Tidak mau ke puskesmas, malah mereka itu kayak maunya pulang pagi. Jadi puskesmas tidak bisa mengobservasi semua siswa yang terdampak," kata Soleh.
Saat ini seluruh sampel menu makanan MBG yang disajikan saat kejadian telah diambil oleh Dinas Kesehatan untuk diuji di laboratorium. Hal ini guna memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
"Kemarin sudah sampelnya diambil sama Dinkes. Kita menunggu sampai 14 hari untuk hasil lab-nya. Kemarin yang disampling itu semuanya ada nasi, ada ayam bakar, itu terus ada lalapannya, ada sambalnya juga, ada semangka juga dan ada mendoannya juga," kata Soleh.
Akibat penghentian sementara operasional SPPG Soditan, pasokan makanan MBG bagi penerima manfaat untuk sementara waktu diliburkan atau berpotensi dialihkan ke SPPG terdekat.
"Untuk sementara ini penerima manfaat dari SPPG libur dulu. Memang bisa dialihkan ke sppg terdekat selama libur tapi untuk ketentuannya harus mengirimkan jumlah pm (penerima manfaat) dan lainnya seperti itu," ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 750 warga sekolahan SMAN 1 Lasem (Smanela) mengalami diare masal, pada Kamis (3/9) sekitar pukul 09.00 WIB. Hal itu membuat para siswa dipulangkan.