"Tidak boleh ada ruang kompromi maupun sikap menutup mata terhadap bibit perundungan, kekerasan, apalagi perilaku seksual menyimpang di asrama. Menjaga santri berarti menjaga kesucian fitrah umat dan masa depan kepemimpinan Indonesia," ujar Nanang Mubarok.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum PP Salimah yang juga Pegiat Gerakan Indonesia Berfitrah (GIF) Reni Anggrayni menggarisbawahi urgensi mitigasi sistemik dan pengikisan budaya penyangkalan (anti-denial) dalam tata kelola lingkungan asrama.
"Langkah pertama penyelamatan generasi adalah keberanian mengakui realitas dan menghentikan sikap penyangkalan. Data menunjukkan bahwa bahaya nyata kerap mengintai di balik celah minimnya pengawasan tata ruang dan relasi senioritas yang tak terkontrol," ucap dia.
Maka dari itu, Reni menegaskan pihaknya bersama aliansi ormas dan pemerhati pendidikan mendorong standardisasi tata ruang fisik asrama, seperti pengaturan jarak ranjang minimal 60 cm, peniadaan area buta tanpa pengawasan CCTV, SOP sanitasi aman, serta pembekalan modul deteksi dini bagi pembimbing dan guru asrama.
GIF bersama BKPRMI dan PP Salimah menyerukan aksi nyata kepada seluruh pimpinan pondok pesantren, para ustadz, komite sekolah, dan wali santri di seluruh tanah air untuk bergerak serentak melindungi masa depan generasi.