"Aku adalah peserta termuda di sini, tadi sebenarnya walau tidak menang hadiahnya tapi aku sudah menang dengan pengalaman yang bisa ikut terlibat dalam kelompok ini," tambah Jihan yang berusia 25 tahun itu.
Kemudian perwakilan China adalah Kyle Li melalui "38 Fixers" yang melatih perempuan menjadi teknisi perbaikan rumah dan Wenxi W melalui "The Visible Hands" yang mengembangkan kerajinan tradisional menjadi usaha ekonomi kreatif.
Dua finalis Singapura yaitu Mint Lim melalui "School on Cloud" yang membantu perempuan menjadi wirausaha pendidikan sekaligus memperluas akses sekolah bagi masyarakat dan Sulfya Lim melalui "Tech up Advance" yang menyediakan pendidikan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) bagi anak-anak berkebutuhan pendidikan khusus.
Dari Malaysia, Vatsala Nair melalui "Moms Village Asia" mengembangkan produk berkelanjutan yang dibuat perempuan penyintas kekerasan dalam rumah tangga, Korea Selatan diwakili Jieun Lee melalui "Giboo" dengan AI yang menghubungkan penyandang dana filantropi dan program sosial yang butuh pendanaan, finalis Thailand Prangthong Tiengkate mengembangkan "Bamboo Family Market" yaitu pasar kerajinan komunitas yang telah memberdayakan lebih dari 60 perempuan pengrajin.
Kemudian Vietnam diwakili Nhung Tran Huyen melalui "Tham Nhung Social Enterprise" yang menyediakan dukungan kesehatan mental dan bantuan hukum bagi pekerja migran perempuan di lingkungan pabrik serta Brunei Darussalam ada Tina Afiqah melalui "Parabelle Studios" yaitu mempertemukan penulis dan ilustrator lokal yang menghadirkan kembali warisan budaya Brunei dengan cara baru dan kreatif.
Pemenang kompetisi tersebut akan mendapat dukungan pendanaan hingga 100.000 dolar AS (Rp1,8 miliar), disertai pendampingan (mentoring) profesional, pelatihan kepemimpinan, akses pendidikan, jaringan bisnis internasional maupun ekspos media.