"Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Al-Qaa di Afrah Al-Raddadi sekitar pukul 16.00, saat hujan mulai turun dengan deras," ujarnya.
Setelah dari lokasi pertama, Shaheen dan suaminya melanjutkan perjalanan menuju Al-Furaish. Di kawasan tersebut, hujan turun lebih lebat hingga membuat air mulai mengalir di sejumlah area.
"Lokasi kedua adalah Al-Furaish, tempat hujan turun lebih lebat. Karena intensitasnya yang tinggi, air banjir mulai mengalir."
Perjalanan tim redaksi kedua lokasi tersebut membutuhkan waktu sekitar satu jam. Menurut Shaheen, hujan dengan intensitas paling tinggi terjadi di sekitar Malaf Aar di Al-Sadarah.
"Hujan di lokasi pertama dan kedua berlangsung tim redaksi 15 hingga 30 menit; hujan sempat sangat deras sebelum akhirnya mereda menjelang matahari terbenam," katanya.
Ia juga menyebut hujan terus terjadi selama tiga hari. Curah hujan paling tinggi tercatat pada Jumat.
Bagi Shaheen, hujan di kawasan gurun Madinah memberikan pengalaman tersendiri. Ia memang memiliki pengalaman dalam perjalanan lintas alam atau overlanding di berbagai wilayah Arab Saudi.
Bersama suaminya, ia tertarik menjelajahi kawasan Madinah karena wilayah tersebut memiliki lanskap alam yang beragam, termasuk medan gurun yang luas.
Menurutnya, perubahan kondisi gurun setelah hujan menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Hamparan pasir dan bebatuan yang sebelumnya kering dapat berubah menjadi jalur aliran air dalam waktu singkat.
"Masih ada kemungkinan hujan lagi," ujarnya. "Kami sangat antusias menyambut musim ini dan menantikan saat lanskap berubah dari gurun menjadi aliran air, sebelum akhirnya menghijau dan tampak seperti surga tersembunyi."
Fenomena tersebut memperlihatkan karakter alam Arab Saudi yang tidak selalu identik dengan kondisi kering dan panas. Pada musim tertentu, hujan dapat turun dengan intensitas cukup tinggi dan menyebabkan air mengalir di kawasan gurun.