Ia merinci empat langkah antisipasi yang harus dilakukan. Pertama, pantau tumbuh kembang anak dengan mengukur tinggi dan berat badan secara berkala serta mewaspadai keterlambatan perkembangan.
Kedua, pantau pernapasan dengan memonitor batuk atau mengi berulang, menilai kontrol asma, serta melakukan spirometri atau uji fungsi paru bila memungkinkan.
Ketiga, tingkatkan pencegahan melalui imunisasi lengkap, nutrisi yang baik, rumah bebas asap rokok, dan penerapan PHBS. Keempat, lakukan advokasi lingkungan melalui pemantauan udara, penyediaan ruang bersih di sekolah, dan pencegahan karhutla.
Menurutnya, melindungi anak dari dampak karhutla berarti melindungi generasi pemimpin masa depan.
"Lindungi generasi pemimpin masa depan. Anak-anak kita adalah 'Their Name Is Today'-mereka berhak mendapatkan masa kanak-kanak yang sehat, bukan korban dari udara yang beracun," ujar Nastiti.
Sementara itu Universitas Indonesia (UI) dan Ikatan Alumni Magister Kedokteran Kerja (ILUNI MKK) merencanakan studi mengenai dampak kesehatan lanjutan pada pekerja dan masyarakat pascakebakaran hutan dan lahan sebagai upaya memperkuat dasar ilmiah bagi perlindungan kesehatan yang berkelanjutan.
Dekan Fakultas Kedokteran UI, Anna Rozaliyani mengatakan di Jakarta, Sabtu, bahwa kesehatan manusia harus menjadi bagian integral dari upaya perlindungan lingkungan dan penanganan karhutla.