Menurutnya, karhutla memerlukan respons yang kolaboratif dari berbagai pihak agar pengetahuan ilmiah dapat diterjemahkan menjadi langkah perlindungan yang nyata.

"Ini adalah persoalan kesehatan, keselamatan, dan masa depan generasi kita. Kita tidak boleh hanya bereaksi ketika bencana terjadi. Pencegahan paparan, pengenalan risiko kesehatan sejak dini, dan tindak lanjut yang tepat harus diperkuat dengan bukti ilmiah dan kolaborasi lintas disiplin," ujar Anna.

Studi ini direncanakan menilai kondisi kesehatan dalam rentang satu hingga tiga bulan setelah kejadian, dengan fokus pada gejala sisa saluran pernapasan dan keluhan kesehatan lain yang relevan dengan paparan.

Penelitian akan dikoordinasikan melalui Klaster Occupational & Environmental Health, IMERI FKUI, dan Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI. Hasilnya diharapkan mendukung pengembangan edukasi, skrining, dan pemantauan kesehatan berdasarkan kebutuhan kelompok terdampak.

Rentang pengamatan tersebut merupakan fokus studi yang direncanakan dan tidak dengan sendirinya mewakili seluruh dampak kesehatan jangka panjang.

Melalui integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, pihaknya berkomitmen memperkuat kontribusi ilmu kedokteran bagi kesehatan masyarakat Indonesia serta mendorong upaya pencegahan dan penanganan dampak kesehatan karhutla yang terpadu dan berkelanjutan.