"Investor akan mencermati perkembangan data ekonomi dan laporan keuangan perusahaan untuk menilai keberlanjutan reli pasar," ujar Liza.
The Fed dijadwalkan mengambil keputusan suku bunga pada pekan depan. Pasar memperkirakan probabilitas sekitar 85 persen bahwa suku bunga akan dipertahankan, namun peluang kenaikan 25 basis poin pada Desember 2026 mencapai sekitar 75 persen.
Sementara itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah serangan rudal menargetkan kapal tanker di Selat Hormuz dan fasilitas energi Arab Saudi.
Adapun, risiko gangguan distribusi energi masih tinggi, meskipun volume pengiriman minyak mentah dari kawasan tersebut telah melampaui tingkat sebelum perang.
Di sisi lain, Rusia dijadwalkan mengirim kapal tanker diesel pertamanya ke AS berdasarkan kesepakatan Donald Trump dan Vladimir Putin, sementara Washington menjajaki kerja sama energi dengan Reliance Industries India.
Bursa Eropa kompak menguat pada perdagangan Rabu (22/10) kemarin, diantaranya Euro Stoxx 50 menguat 1,50 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,19 persen, indeks DAX Jerman menguat 1,35 persen, dan indeks CAC 40 Prancis menguat 1,06 persen.
Bursa Wall Street AS juga kompak menguat pada perdagangan Rabu (22/10), diantaranya indeks S&P 500 menguat 0,58 persen, indeks Nasdaq Composite menguat 1,05 persen, serta Dow Jones Industrial Average menguat 0,69 persen.
Bursa saham regional Asia pagi ini, indeks Nikkei melemah 1,02 persen ke 64.008,00, indeks Shanghai melemah 1,3o persen ke 3.66q,96, indeks Hang Seng melemah 2,78 persen ke 23.998,95, indeks Kospi melemah 2,24 persen ke 5.607,17, dan indeks Straits Times melemah 0,11 persen ke 5.431,36.