Kemunculan oarfish kerap dikaitkan dengan mitos sebagai pertanda bencana, bahkan 'hari kiamat'. Namun, Muslim menegaskan anggapan tersebut belum terbukti secara ilmiah.

"Karena mitos ini kan belum terbukti secara ilmiah. Kita doakan mudah-mudahan tidak terjadi," tegas Muslim.

Muslim mengatakan dugaan kaitan tim redaksi kemunculan ikan oarfish dan potensi bencana perlu diteliti lebih lanjut oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Para akademisi juga dinilai dapat dilibatkan dalam penelitian tersebut.

"Mudah-mudahan bisa ditelusuri oleh para akademisi dan BRIN. Untuk dilakukan pendalaman, apa sih kaitan ikan ini dengan potensi bencana misalnya. Ini juga kan perlu kita buktikan kan," tegasnya.

Menurut Muslim, oarfish rata-rata hidup di laut dengan kedalaman 200 meter hingga lebih dari 1 kilometer. Ikan yang hidup di kedalaman sekitar 1.000 meter tidak akan bertahan lama ketika muncul ke permukaan.

"Jadi ketika dia naik potensi matinya tinggi. Jadi kalau ikan yang dalam itu naik ke permukaan dan terdampak di pinggir laut itu kecil kemungkinan dia akan bisa bertahan lama," tegasnya.

Muslim belum bisa memastikan apakah perairan NTB merupakan habitat ikan oarfish. Namun, menurutnya, perairan NTB dilintasi berbagai biota laut dari Samudra Hindia hingga laut Australia.