Aksi ini melanjutkan program penanaman mangrove yang telah dijalankan IMIP sejak 2018 lalu. Sepanjang 2018 sampai pertengahan 2026 saja, IMIP telah menanam lebih dari 150.000 mangrove di sejumlah desa sekitar kawasan industri. Baik melalui program CSR IMIP, maupun program Environmental and Sustainability IMIP. Program ini juga bahkan diperluas ke luar Morowali, antara lain ke Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), dan Brebes, Jawa Tengah (Jateng).
Agenda in, kata Adrian, diproyeksikan mencapai dua target utama secara bersamaan, yakni restorasi ekosistem laut serta pencapaian kemandirian ekonomi masyarakat lokal. Sebagai bagian dari peta jalan perusahaan untuk tumbuh bersama warga, IMIP berencana memfasilitasi pembangunan sarana pembibitan (nursery) dalam strategi jangka menengah.
Selain itu, Adrian memaparkan skema program ini nantinya akan menyatukan masyarakat dalam kelompok-kelompok khusus untuk memproduksi bibit mangrove secara mandiri. Rencana ini disusun sedemikian rupa dengan target akhir agar benih tersebut memiliki nilai ekonomis, dapat dikomersialkan, hingga terserap secara berkelanjutan oleh pasar.
Program ini menanam Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, dan Ceriops tagal. Pemilihan jenis didasarkan pada pemetaan ekologis Tim CDC IMIP. Kelima jenis ini dinilai paling adaptif terhadap salinitas (kadar garam) perairan dan substrat lumpur berpasir di pesisir Morowali.