NADIKABAR.COM β Asia Investor Group on Climate Change (AIGCC) menekankan pentingnya peta jalan transisi ketenagalistrikan yang jelas untuk menarik investasi swasta skala besar dalam mendukung percepatan transisi energi di Indonesia.
MenurutΒ jaringan investor dengan nilai aset kelola lebih dari US$30 triliun itu kejelasan mengenai kebutuhan pembiayaan, kesiapan daftar projek, serta pembagian risiko, menjadi faktor penting untuk menerjemahkan target transisi energi menjadi realisasi investasi.
Laporan terbaru AIGCC bertajuk 'Investor Expectations for Power-Sector Transition Roadmaps in Asia' memaparkan kebutuhan investor terhadap perencanaan transisi ketenagalistrikan di Asia.
Khusus Indonesia, AIGCC menilai tantangan transisi ketenagalistrikan bukan lagi karena tidak adanya perencanaan, melainkan penyelarasan dan pelaksanaan kerangka kebijakan yang sudah ada.
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 menargetkan tambahan kapasitas 69,5 gigawatt (GW), tiga perempatnya berasal dari energi terbarukan dan penyimpanan energi dengan proyeksi biaya US$188 miliar.
Sekitar 73 persen dari kebutuhan itu diharapkan berasal dari modal swasta (independent power producer/IPP). Rencana Investasi dan Kebijakan Komprehensif (CIPP) Just Energy Transition Partnership (JETP) juga menawarkan jalur yang lebih ambisius dan berorientasi investor, meskipun tidak bersifat mengikat.