"Sekitar 73 persen dari kebutuhan investasi US$188 miliar dalam RUPTL diharapkan berasal dari modal swasta. Artinya, keberhasilan rencana ini sangat bergantung pada kesiapan investor untuk masuk," ujar CEO AIGCC Rebecca Mikula-Wright dalam keterangan resmi, Senin (26/10).
Laporan AIGCC menyimpulkan kelayakan investasi bergantung pada kelayakan pembiayaan proyek (investability), keberlanjutan keuangan PLN, realisasi pembangunan jaringan, serta penanganan batu bara, termasuk pembangkit captive yang melayani kawasan industri.
Investor, sambung Mikula-Wright, tidak meminta Indonesia untuk menjadi lebih ambisius. Namun, investor meminta kejelasan mengenai jalur untuk mobilisasi modal pembiayaan.
"Posisi Indonesia amatlah penting bagi transisi ketenagalistrikan di kawasan Asia Tenggara, dan para investor sudah mulai melirik Indonesia. Roadmap yang terpadu dan layak investasi akan memungkinkan mereka untuk berkomitmen dalam skala yang sepadan dengan potensi pertumbuhan negara tersebut," sambung Mikula-Wright.
Peluncuran laporan ini bertepatan dengan sejumlah perkembangan yang dinilai dapat mendukung peningkatan investasi di sektor energi terbarukan di Indonesia.
Salah satunya lelang Program Mentari Nusantara I oleh PLN untuk proyek tenaga surya berkapasitas 1.225 megawatt (MW) yang dikemas dalam satu paket pengadaan untuk memberikan skala ekonomi dan kepastian proyek bagi investor.