NADIKABAR.COM — Komitmen pelestarian adat dan budaya lokal diuji di tengah kemeriahan Pasar Malam Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS). Para pegiat seni tradisi yang berdedikasi menjaga muruah daerah menghadapi situasi ironis, mereka diminta menampilkan pertunjukan kolosal bernilai sejarah Palabuhanratu, namun harus berjibaku mencari biaya operasional secara mandiri.
Keluhan tersebut disuarakan langsung oleh Ketua Paguyuban Padjajaran Anyar, Firman Hidayat. Pihaknya merasa ada ketimpangan perlakuan saat panggung hiburan musik dan artis luar difasilitasi, sementara sajian pembuka bernilai sakral dan historis justru dihadapkan pada ketiadaan anggaran.
Firman menceritakan, paguyubannya pada prinsipnya siap bekerja sama menyukseskan perayaan HJKS. Pihak panitia meminta pementasan rampak dan drama kolosal sejarah berdirinya ibu kota Palabuhanratu pada pembukaan tanggal 10 September nanti yang melibatkan puluhan penari dan pemeran pendukung.
"Kita kan intinya ingin kerja sama membantu HJKS. Kalau kami mah siap. Namun ketika pembukaan tanggal 10 harus ada rampak dan drama kolosal menceritakan sejarah Palabuhanratu ibu kota Sukabumi, itu memerlukan banyak penari dan pemeran. Terus kita disuruh mencari sponsor sendiri. Padahal semua sponsor rata-rata sudah dimasuki panitia, jadi susah," ungkap Firman, Rabu (2/9/2026).
Firman juga mengaku heran dengan dalih ketiadaan anggaran dari pemerintah. Baginya, kegiatan resmi dengan kontrak kerja semestinya tetap menyediakan alokasi pembiayaan operasional yang adil bagi pengisi acara.