"Berbicara tidak ada anggaran, masa sih begitu? Setelah acara selesai kan pasti ada pembayaran kontrak dari pemerintah. Masa giliran hiburan bisa mengundang artis, giliran kami yang menceritakan sejarah Palabuhanratu malah disuruh cari anggaran sendiri? Kan tidak etis. Padahal sponsor sudah dimasuki pihak lain, kami bingung harus ke mana," tuturnya.

Ia menekankan bahwa momentum sakral hari jadi daerah seharusnya mengedepankan tradisi leluhur dan ritual adat seperti mimit amit ka karuhun, doa bersama, hingga ngaruat lembur.

"Kenapa pembukaan itu dangdut yang didahulukan? Harusnya pembukaan mah amit ka karuhun, kebudayaan dulu. Di sini kan setahun sekali ada ritual ngaruat lembur, setidaknya harus menghargai kebudayaan lokal. Jangan sampai kami malah didesak mencari anggaran. Sebetulnya kami tidak menyalahkan pemerintah, cuma kebijakan pihak panitia harusnya memprioritaskan mana yang lebih utama," papar Firman.

Menanggapi polemik tersebut, Direktur PT Buana Citra Promosindo selaku pengelola acara, Agus Chandra, memberikan penjelasan menyeluruh. Ia menegaskan kegiatan pasar malam ini adalah inisiatif swasta tanpa sepeser pun kucuran APBD.

"Tidak ada bantuan dari pemerintah daerah, seribu rupiah pun enggak ada. Ini murni swadaya dari peserta UMKM yang menyewa stan, sewa tenda, dan bayar listrik. Saya menyumbang panggung dan sound system yang nilai sewanya cukup besar. Kami memberikan fasilitas panggung bagi budaya lokal jika ingin tampil, barangkali ada sponsor pendukung atau mau bikin perlombaan sanggar pencak silat, pendaftarannya silakan diambil," kata Agus.