Topik yang didiskusikan mencakup kesiapan proyek film untuk memperoleh investasi, peran perbankan dalam pembiayaan produksi, serta pemanfaatan data audiens untuk mendukung analisis risiko dan pengambilan keputusan investasi.
JFS 2026 diikuti lebih dari 500 peserta dari 10 negara dan menghadirkan 40 pembicara. Rangkaian diskusi itu diharapkan menghasilkan tiga poin utama, yakni rekomendasi kebijakan, peningkatan kapasitas industri, dan penguatan visibilitas Jakarta di tingkat global.
Rangkaian kegiatan kemudian akan dilanjutkan dengan Jakarta Scouting Day pada 22 Oktober. Para film commissioner dan rumah produksi dijadwalkan mengunjungi sejumlah lokasi potensial untuk produksi film, termasuk Pasar Rumput, Pelabuhan Muara Angke, Kota Tua, dan Skydeck Bundaran HI.
Agenda ini juga mencakup sesi "The Two Cities" bersama Hong Kong untuk membahas peluang pertukaran pengalaman dan kolaborasi antarkota.
Gelaran Jakarta Film Summit 2026 mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI. Gubernur Pramono Anung menilai, Jakarta memiliki modal yang kuat melalui infrastruktur, aktivitas ekonomi, dan konektivitas transportasi yang mendukung pengembangan industri kreatif.
Pramono bahkan menempatkan visi Jakarta sebagai pusat perfilman regional dalam konteks pengembangan kota-kota perfilman dunia, termasuk Busan, Korea Selatan.