Memastikan ketahanan energi nasional sejalan dengan transisi energi, Pertamina menjalankan Dual Growth Strategy. Bagi Pertamina, strategi ini bertujuan untuk menjaga ketahanan energi nasional saat ini, mendukung transisi energi Indonesia menuju target net zero emission serta menciptakan sumber pertumbuhan bisnis baru di tengah tren global menuju energi bersih

Jurus pertumbuhan ganda yang dilakukan oleh Pertamina yakni membagi fokus pengembangan bisnis ke dalam dua kelompok utama, yakni Maximizing Legacy Businesses dan Building Low Carbon Businesses.

Strategi Maximizing Legacy Businesses merupakan upaya-upaya yang dilakukan Pertamina untuk terus mengembangkan bisnis eksisting Perusahaan terutama yang berbasis fosil. Memperkuat bisnis inti migas terutama ditujukan untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Strategi ini dijalankan melalui beberapa program kerja diantaranya meningkatkan produksi minyak dan gas, melakukan modernisasi dan pembangunan kilang, termasuk proyek kilang baru, menjalankan pendistribusian BBM dan LPG hingga wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) serta meningkatkan ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor.

Pada strategi kedua, Pertamina menyiapkan strategi Building Low Carbon Businesses untuk mengembangkan bisnis rendah karbon sebagai sumber pertumbuhan baru.

Salah satu fokusnya adalah pengembangan biofuel. Pertamina menargetkan peningkatan kapasitas produksi serta penguatan infrastruktur biofuel.

Program tersebut mencakup optimalisasi implementasi biodiesel serta pengembangan dan perluasan pemanfaatan biosolar. Pertamina juga mencantumkan peningkatan bauran biofuel untuk biodiesel, bioethanol, dan sustainable aviation fuel (SAF).

Pertamina juga memasukkan ekspansi kapasitas panas bumi atau geothermal sebagai bagian dari bisnis rendah karbon.

Pengembangan tersebut dilakukan melalui peningkatan kapasitas serta perluasan peluang bisnis baru di sektor geothermal. Investasi panas bumi ditempatkan sebagai salah satu bagian dari upaya pengembangan bisnis energi baru dan terbarukan.

Selain itu, Pertamina menyiapkan pengembangan bisnis rendah karbon lainnya, termasuk dekarbonisasi, carbon capture, utilization and storage (CCUS/CCS), gas-to-power, energi surya, nature-based solutions (NBS), kredit karbon, kendaraan listrik, hingga hidrogen.

Pertamina punya anak perusahaan yang fokus di bisnis di bidang energi baru dan terbarukan yakni Pertamina New and Renewable Energy (Pertamina NRE).

Pertamina NRE selama ini bekerja fokus pada pengembangan energi bersih di Indonesia dengan mendorong perubahan melalui solusi energi berkelanjutan.

Berdasarkan laporan tahunan 2025 Pertamina NRE, sepanjang 2025 total kapasitas pembangkit bersih yang dikelola perseroan melonjak 29 persen secara tahunan menjadi 3.226,42 MW.

Lonjakan kapasitas jumbo itu ditopang oleh langkah akuisisi strategis pada Citicore Renewable Energy Corporation (CREC) di Filipina sebesar 669,3 MW. Pertumbuhan ini juga didorong oleh beroperasinya PLTS RU V Balikpapan berkapasitas 2,5 MW serta komersialisasi PLTP Lumut Balai Unit 2 sebesar 55 MW.

Dari sisi kelistrikan, produksi Pertamina NRE menembus 8.710 GWh atau naik 2,78 persen dari capaian tahun sebelumnya. Perseroan juga berhasil merajai 79 persen pangsa pasar bursa karbon domestik dengan mencatatkan penjualan 889.928 tCO2e sejak perdagangan perdana di IDXCarbon.