Di sisi lain, karhutla dan bencana alam juga menimbulkan risiko langsung terhadap kegiatan usaha di dalam negeri.

Survei Business Pulse kuartal III yang dipaparkan Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian menunjukkan 57,9 persen responden anggota Kadin mengalami dampak bencana alam atau gangguan lingkungan dalam 12 bulan terakhir.

Dari kelompok tersebut, 13 persen melaporkan terdampak karhutla. Gangguan bencana juga memengaruhi operasional perusahaan melalui kenaikan biaya, penurunan penjualan, serta masalah transportasi dan logistik.

Survei Kadin mencatat 13,5 persen responden mengalami kenaikan biaya operasional, 11,8 persen menghadapi penurunan penjualan, dan 10,8 persen mengalami gangguan transportasi serta logistik.

Dampak terhadap pasokan bahan baku juga menjadi perhatian, terutama bagi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sebanyak 13,8 persen responden pada kelompok sektor tersebut melaporkan gangguan rantai pasok akibat bencana alam.

Kadin juga mencatat karhutla berdampak pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, termasuk perkebunan. Sebanyak 18,8 persen responden di sektor tersebut melaporkan karhutla sebagai gangguan usaha.

Sementara itu, sektor konstruksi juga terdampak, dengan angka mencapai 20,9 persen pada kelompok responden yang melaporkan dampak karhutla.