Ia menjelaskan kelompok masyarakat dalam desil delapan hingga 10 atau kelompok ekonomi atas merupakan penyumbang belanja terbesar, dengan kontribusi sekitar 53 persen.
Kondisi tersebut, menurut Aviliani, membuat pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen masih dapat terasa stabil dari sisi konsumsi, meskipun manfaat pertumbuhan belum dirasakan secara merata.
"Makanya kita enggak terasa tumbuh 5 persen, oke-oke aja kok. Tapi jangan lupa yang menikmati adalah yang biru," ujarnya.
Sementara itu, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah atau desil satu hingga tiga dinilai masih memperoleh perlindungan melalui program bantuan pemerintah, seperti bantuan langsung tunai (BLT) dan BPJS.
Sebaliknya, kelompok menengah yang pendapatannya tertekan berisiko tidak mendapatkan dukungan yang memadai.