NADIKABAR.COM — Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Sukirman, turut menyaksikan langsung happening art di Simbang Kulon Night Carnaval (SKNC) yang belakangan ini viral karena dinilai menampilkan ritual satanic. Ia menyebut penonton tidak diberi tahu soal konsep pertunjukan itu.

"Yang jelas, kegiatan itu kami hanya hadir sebagai kepala daerah. Bahkan, konsep dan seterusnya kan kita tidak diberi info sama sekali," kata Sukirman saat ditemui wartawan di Pemkab Pekalongan, Senin (14/9/2026).

"Bahkan panitia, sepuh-sepuh, para kiai, dan seterusnya kan juga tidak diberitahu karena sifatnya adalah untuk surprise, kejutan, begitu. Tapi dari sisi lain, saya ngasih catatan itu," sambungnya.

Sukirman menyaksikan langsung acara tersebut karena mendapat undangan. Ia juga menyaksikan dan mengakui adanya aksi penyembelihan kambing dalam pertunjukan itu.

Ia menegaskan penyembelihan kambing itu bukan sebagai bagian dari ritual persembahan sebagaimana kabar yang beredar di media sosial.

"Memang ada penyembelihan kambing yang sebenarnya setelah acara selesai mau disate bareng-bareng," ujar dia.

Sukirman juga memastikan penyembelihan kambing tersebut bukan untuk kegiatan lain di luar rangkaian acara.

"Nah, memang tema-tema horor itu kan memang digemari ya. Tidak hanya kemudian teatrikal seperti itu, tetapi film, apa, segala macam. Tetapi kalau sifatnya live seperti itu memang bisa menimbulkan multitafsir yang akhirnya seperti sekarang ini," ucap dia.

Saat ditanya seberapa horornya pertunjukan itu, Sukirman menyebut banyak anak-anak yang terkejut saat menyaksikan langsung.

"Ya memang itu akan membawa dampak psikis tentu saja. Anak-anak ini kan didampingi orang tua, ya banyak ekspresi-ekspresi yang terkejut begitu ya," ujar dia.

Menurut Sukirman, sebaiknya pertunjukan itu disertai dengan narasi yang menjelaskan terkait aksi teaterikal tersebut.

"Nah, sebenarnya kalau itu diimbangi dengan simbolis-simbolis, kemudian ada penjelasan mengenai keangkaramurkaan, memerangi nafsu setan, nafsu kekuasaan, dan seterusnya," kata dia.

"Tapi memang yang persembahan itu kemudian hanya simbolis-simbolis semata, yang justru memang memunculkan itu. Ditambah kemudian upload-an yang malam dan seterusnya itu semakin riuh," imbuhnya.

Sukirman menjelaskan acara Simbang Kulon Night Carnaval (SKNC) 2026 pada Kamis (10/9) malam itu, dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW, dan khitanan massal.

"Itu, Acara Maulid, kemudian sunat massal, begitu. Kan ada banyak sisi positifnya kan sebenarnya. Ada sunat massal, Maulid Nabi, lalu kemudian ya masih rangkaian Maulid Nabi lah ya. Lalu kemudian sunat massal itu kemudian ya juga diberkahi oleh para kiai, dan kekompakan masyarakatnya yang saya lihat memang luar biasa. Urunan mandiri, tidak merepotkan siapa pun. Itu sebenarnya yang menjadi titik poinnya juga positif," kata Sukirman.

Menurut Sukirman, secara umum kegiatan festival tersebut memiliki banyak sisi positif.

"Yang pertama sebenarnya kerukunan mereka, semangat mereka, lalu kemudian mereka mandiri mengadakan festival itu. Menjadi bagian menurut saya adalah sesuatu yang sangat positif. Masyarakat guyub, mandiri, betul-betul mandiri," ujar Sukirman.

Namun, ia mengakui ada bagian dari pertunjukan yang kemudian menimbulkan kegaduhan dan multitafsir di tengah masyarakat.

Sukirman menyebut Pemerintah Kabupaten Pekalongan akan berkoordinasi dengan panitia untuk melakukan antisipasi dan mitigasi agar kreativitas masyarakat tetap berjalan, tetapi tidak menimbulkan pemahaman yang bertentangan dengan kaidah agama maupun nilai-nilai Pancasila.

Diberitakan sebelumnya, Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, menjadi sorotan setelah disebut ada unsur satanik. Pihak panitia pun buka suara.

"Kami dari perwakilan panitia membenarkan adanya karnaval atau KSNC 2026 yang dilaksanakan Kamis malam, 10 September 2026. Terkait kejadian yang berlangsung, secara detail pihak panitia tidak mengetahui," kata Perwakilan Panitia SKNC, Ziyad Azizi saat ditemui di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Senin (14/9).

Namun, dia mengaku tidak mengetahui maksud dari penampilan tersebut. Ziyad menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari acara khitanan massal ke-61 yang diselenggarakan oleh Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Simbang Kulon.

Video karnaval tersebut beredar di media sosial, salah satunya diunggah akun @infobimantara. Dalam video tersebut terlihat ada sejumlah orang berkostum putih dan berwajah tengkorak, Ada juga yang berkostum hitam dengan tampang seram.

Bahkan mereka juga membawa peti mati kemudian melakukan penyembelihan kambing. Penonton berkerumun menyaksikan pertunjukan tersebut.

"Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, digelar sebagai rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus khitanan massal ke-61.

Namun, ada satu adegan yang mencuri perhatian.

Dalam sebuah pertunjukan, terlihat kambing disembelih di atas sebuah altar yang dikelilingi lilin. Bagian bawahnya menampilkan pentagram terbalik, kepala kambing, lingkaran konsentris serta simbol yang menyerupai aksara Ibrani.

Sekilas, komposisi tersebut sangat mirip dengan Sigil of Baphomet, simbol yang lekat dengan ikonografi okultisme dan Satanisme modern.

Lantas, apa sebenarnya konsep pertunjukan tersebut?" tulis akun tersebut.

Menanggapi soal informasi tersebut, pemerintah Daerah segera berkoordinasi dengan MUI dan memanggil panitia.

"Dalam jangka waktu dekat ini, kami akan mengundang panitia, teman-teman panitia SKNC, untuk dilakukan klarifikasi sebenarnya apa yang terjadi di sana," kata Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan, M Yulian Akbar, saat ditemui di Pemkab Pekalongan, Senin (14/9).

Untuk mendapatkan pandangan lebih komprehensif, Pemkab Pekalongan juga berencana berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk meminta masukan terkait persoalan tersebut.

"Kami segera koordinasi juga dengan MUI untuk meminta masukan," kata Yulian.

Perlu diketahui, Simbang Kulon Night Carnival 2026 merupakan kegiatan tahunan masyarakat Kelurahan Simbang Kulon. Tahun ini, karnaval diikuti 25 barisan yang berasal dari 25 musala yang ada di wilayah tersebut.

Lihat Video 'Viral Karnaval di Pekalongan Berbau Ritual Kontroversi':