Sebagai perbandingan, Malaysia saat ini memiliki kapasitas pusat data sekitar 3 gigawatt. Oleh karena itu, pemerintah perlu menata sekaligus memberikan safeguard dalam pembangunan pusat data agar kapasitasnya dapat berkembang dengan baik.
Selain kapasitas komputasi, Nezar menyebut data dan infrastruktur publik digital sebagai fondasi lain dalam kedaulatan digital. Menurut dia, data merupakan bahan baku AI sehingga kualitas data juga menentukan kualitas keluaran sistem AI.
Dia juga menyebut keamanan siber dan kepercayaan, regulasi dan tata kelola, serta talenta, riset, dan kemampuan inovasi sebagai bagian dari ekosistem yang perlu diperkuat.
Pada aspek infrastruktur, Nezar mengatakan 97 persen wilayah berpenghuni di Indonesia telah tercakup jaringan telekomunikasi. Penetrasi 5G saat ini berada di bawah 10 persen dan pemerintah berharap dapat meningkat hingga setidaknya 50 persen.
Pemerintah menargetkan kecepatan internet mencapai 100 Mbps dalam dua hingga tiga tahun ke depan dengan harga yang lebih terjangkau. Saat ini, jaringan serat optik telah menjangkau 4.398 dari 7.281 kecamatan.
Pada kebutuhan talenta digital, Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar 12 juta talenta digital pada 2030. Jumlah talenta digital saat ini ialah 9,3 juta orang.
Pemerintah dan pelaku industri terus menjalankan program peningkatan kapasitas talenta digital, khususnya untuk bidang AI, data, keamanan siber, hingga tenaga kerja sektoral yang mampu menggunakan AI.