NADIKABAR.COM — Kementerian Agama (Kemenag) RI menerbitkan Surat Edaran Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Nomor 8 Tahun 2026 yang mengatur tentang Pelaksanaan Salat Istisqa.

Edaran itu terbit untuk merespons kondisi kekeringan, kekurangan air, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Edaran itu mengimbau umat Islam untuk melaksanakan salat Istisqa, sekaligus memperkuat upaya nyata dalam menjaga lingkungan.

Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, menjelaskan edaran tersebut menjadi panduan bagi jajaran Kemenag dan masyarakat untuk melaksanakan salat istisqa di daerah yang membutuhkan hujan.

"Imbauan ini kami tujukan kepada Kantor Wilayah Kemenag, KUA (Kantor Urusan Agama), penyuluh agama, hingga pengurus masjid dan majelis taklim di seluruh Indonesia," kata Abu Rokhmad dikutip dari keterangan tertulis, Senin (26/10).

Ia mengatakan salat Istisqa merupakan ikhtiar spiritual untuk memohon hujan kepada Allah. Namun, ikhtiar tersebut juga perlu diiringi dengan tindakan nyata untuk menjaga lingkungan guna mencegah bencana.

"Melalui pelaksanaan salat istisqa, kami mengajak umat untuk memperbanyak istigfar, bersedekah, menghemat penggunaan air, menjaga kelestarian lingkungan, serta ikut mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan," ujarnya.

Edaran tersebut juga memuat panduan waktu dan tempat pelaksanaan salat. Salat istisqa dianjurkan berlangsung pada pagi hari setelah matahari terbit dan meninggi hingga sebelum waktu Zuhur.

Pelaksanaannya dapat dilakukan pada waktu lain yang sesuai, termasuk setelah salat Jumat.

Lapangan atau tempat terbuka menjadi pilihan utama, sedangkan masjid atau tempat lain yang layak menjadi opsi jika kondisi tidak memungkinkan.

Pengurus masjid dan pihak yang menyelenggarakan salat juga dianjurkan mengumumkan pelaksanaannya beberapa hari sebelumnya agar masyarakat dapat mempersiapkan diri.

Salat istisqa dilaksanakan dua rakaat secara berjemaah tanpa azan dan ikamah, disertai khotbah, istighfar, dan doa sesuai tata cara yang tercantum dalam edaran.

Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Muchlis Muhammad Hanafi, menyoroti pentingnya peran penyuluh agama dan lembaga dakwah dalam menyampaikan pesan tersebut kepada khalayak luas.

Menurutnya, melalui penyuluhan, pengajian, khotbah, dan kegiatan keagamaan lainnya, masyarakat dapat memperoleh penjelasan mengenai tujuan serta tata cara salat istisqa sekaligus memahami pentingnya menjaga lingkungan.

"Di tengah ancaman kekeringan dan karhutla, salat istisqa menjadi ruang bagi umat untuk berdoa sekaligus memperkuat kepedulian terhadap alam. Melalui edaran tersebut, Kemenag mengajak masyarakat memadukan ikhtiar spiritual dengan upaya menjaga lingkungan sesuai peran masing-masing," katanya.

Dilansir dari laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), karhutla tercatat masih terjadi di sejumlah provinsi yakni Jambi, Sumatera Selatan, Riau Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan.

Jumlah titik panas atau hotspot dalam 24 jam terakhir di enam provinsi tersebut ada 1.593 titik, dan 197 titik api atau fire spot.

Luas terbakar dalam 24 jam terakhir sebanyak 10.781 hektare (ha), dengan luas yang ditangani baik lewat udara dan darat 877,76 ha.

Adapun kualitas udara berada di kategori berbahaya hingga sangat tidak sehat.

Sebanyak 71.878 personel gabungan dari sejumlah instansi diterjunkan untuk menangani karhutla beserta segala dampaknya.