Pengalaman KWT Sasak Maiq berpotensi menjadi bahan pembelajaran bagi kelompok tani di klaster HDDAP, khususnya dalam mengembangkan produk olahan yang sesuai dengan karakteristik komoditas lokal. Namun, penerapannya di wilayah lain perlu mempertimbangkan ketersediaan bahan baku, kapasitas sumber daya manusia, kesiapan sarana dan prasarana, serta kebutuhan pasar setempat.

Freddy menegaskan bahwa setiap kelompok tani memiliki potensi dan tantangan yang berbeda. Karena itu, pengembangan hilirisasi perlu dilakukan secara bertahap, mulai dari identifikasi potensi komoditas, penguatan kemampuan pengolahan, pengembangan produk, hingga perluasan akses pasar.

"Kami ingin praktik baik seperti ini tidak berhenti pada satu kelompok saja. Harapannya, pengalaman KWT Sasak Maiq bisa menjadi inspirasi bagi kelompok tani lainnya untuk berani berinovasi dan melihat peluang dari komoditas yang mereka miliki. Tentu, setiap daerah harus menyesuaikan dengan potensi dan kebutuhan pasarnya. Yang terpenting, usaha ini tumbuh bersama masyarakat, memberi manfaat bagi keluarga petani, dan dapat terus berjalan dalam jangka panjang," kata Freddy.

Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project (HDDAP) merupakan program pengembangan hortikultura di lahan kering yang mendorong peningkatan produktivitas, penguatan kelembagaan petani, dan pengembangan rantai nilai hortikultura. Pengalaman kelompok seperti KWT Sasak Maiq dapat menjadi referensi dalam memperkuat aspek hilirisasi dan pemasaran agar produk hortikultura memiliki daya saing yang lebih baik.

Sebagai tindak lanjut kunjungan, Direktorat Jenderal Hortikultura akan mendorong optimalisasi pemanfaatan bangsal pascapanen dan peralatan pengolahan yang telah difasilitasi. Praktik baik KWT Sasak Maiq juga perlu diidentifikasi dan didokumentasikan, terutama terkait diversifikasi produk, pemanfaatan bahan baku, pengelolaan limbah, dan strategi pemasaran.

Selain itu, potensi adaptasi model usaha tersebut pada kelompok tani klaster HDDAP perlu dikaji dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pendamping, dan kelompok tani juga menjadi faktor penting untuk memperkuat kapasitas usaha, memperluas akses pasar, serta meningkatkan keberlanjutan kegiatan ekonomi masyarakat.

Melalui penguatan hilirisasi, Kementerian Pertanian berharap komoditas hortikultura tidak hanya dipasarkan dalam bentuk segar, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memberikan nilai tambah lebih besar. Dengan dukungan sarana yang tepat, inovasi kelompok, dan akses pasar yang berkelanjutan, hilirisasi diharapkan mampu membuka peluang usaha baru sekaligus memperkuat kesejahteraan petani dan keluarganya