NADIKABAR.COM — Kulkas dan freezer di sejumlah supermarket Eropa kembali menjadi target serangan siber. Kenapa para peretas menargetkan lemari es tersebut?

Pakar keamanan siber di perusahaan Ygreky, Marta Rybczynska mengungkap alasan utama freezer dan kulkas supermarket menjadi sasaran peretasan karena perangkat tersebut merupakan target yang mudah. Selain itu, petunjuk mengenai cara menyerangnya tersedia dengan mudah di internet.

Ia juga mengungkap spekulasi lainnya, yaitu kemungkinan besar ada kelompok yang didukung oleh negara di balik serangan ini. Namun, menurutnya, para peretas tidak mendapatkan keuntungan dari serangan ini.

Hingga saat ini belum diketahui siapa pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya serangan ini.

"Penyelidik bungkam soal hasil investigasi saat ini di Prancis, tetapi melalui proses eliminasi, kemungkinan besar ada kelompok yang didukung oleh negara di balik ini semua," ujar Rybczynska, dikutip dari Euronews, Selasa (3/11).

Setelah serangan di Prancis, Rybczynska sempat mengira pelaku serangan siber ini ialah sekelompok anak muda. Namun, ia semakin yakin kemungkinan adanya keterlibatan negara usai mengamati kasus terakhir.

"Setelah serangan di Prancis, saya sempat mengira pelakunya adalah sekelompok anak muda, namun dengan kasus terakhir ini kemungkinannya (keterlibatan negara) menjadi jauh lebih besar. Kecuali, jika mereka sadar meniru metodenya," imbuh Rybczynska.

Pernyataan serupa disampaikan oleh Pavlina Pavlova, pendiri organisasi nirlaba keamanan siber Critical Cyber. Ia mengatakan perangkat-perangkat tersebut masih menggunakan sistem lama yang tidak lagi diprioritaskan atau bahkan tidak memungkinkan untuk diperbarui melalui patch keamanan.

Sebagai contoh, banyak perangkat pengendali yang menjadi sasaran serangan di Prancis merupakan model lama yang tidak lagi menerima pembaruan keamanan, meski celah keamanan telah diketahui sejak 2025.

"Perangkat-perangkat tersebut masih menggunakan sistem lama yang tidak lagi diprioritaskan atau bahkan tidak memungkinkan untuk diperbarui melalui patch keamanan; banyak alat pengontrol yang diserang di Prancis," kata Pavlova.

"Misalnya, adalah model lama yang tidak lagi menerima pembaruan keamanan, padahal kelemahannya sudah diketahui sejak tahun 2025," tambahnya.

Pavlova menjelaskan tiga alasan utama mengapa kulkas dan freezer supermarket menjadi incaran empuk para peretas, yaitu mudah dijangkau, menarik untuk diserang serta perangkat keras ini sangat rapuh.

Meski demikian, di era kecerdasan buatan, ancaman tersebut kemungkinan akan meningkat karena AI mempermudah pelaksanaan serangan canggih dan bisa mengotomatiskan serangan pada skala serta kecepatan yang tidak dapat ditandingi oleh manusia.

"Deteksi kerentanan yang digerakkan oleh AI membuat pencarian dan eksploitasi titik lemah menjadi lebih mudah dan lebih cepat dari sebelumnya, termasuk pada fungsi-fungsi vital yang sangat di andalkan. Sementara, melakukan patching pada kecepatan yang masih menjadi hambatan besar bagi pihak yang bertahan. Kondisi ini mungkin akan memburuk sebelum akhirnya membaik," jelas Pavlova.

Toko-toko yang terdampak insiden terbaru ini tampak tidak meningkatkan perlindungan terhadap sistem mereka setelah serangan di Prancis terjadi.

Rybczynska menilai hal ini salah satunya karena banyak toko yang belum menyadari bahwa sistem operasional mereka berpotensi menjadi target serangan siber.

Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya meningkatkan perlindungan terhadap berbagai layanan yang selama ini dianggap tidak terlalu penting, namun tetap memiliki risiko keamanan.

"Masalah besar yang saya lihat adalah toko-toko tidak menganggap diri mereka sebagai target potensial. Menurut saya, ada kebutuhan mendesak untuk mulai melindungi layanan-layanan yang selama ini dianggap tidak cukup penting," tutur Rybczynska.

Sebagai informasi, rangkaian insiden siber terbaru kembali menargetkan kulkas dan freezer di sejumlah supermarket Eropa. Wilayah yang terdampak ialah Belgia, Luksemburg, Estonia, Belanda dan Irlaindia pada Senin (2/11).

Tak hanya itu, Swedia juga terdampak dengan salah satu toko menyebut serangan siber sebagai penyebabnya.

Insiden ini terjadi hanya beberapa minggu setelah freezer di sektiar 500-700 supermarket di Prancis menjadi sasaran serangan siber besar. Serangan tersebut menyebabkan suhu di dalam freezer meningkat hingga mencapai 50 derajat Celsius.

Hingga kini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atau ditetapkan sebagai pelaku insiden ini. Namun, otoritas Prancis meyakini serangan pada 12 Oktober melibatkan pihak dari luar negeri, meski belum ada pihak yang secara resmi dituding sebagai pelaku.

Laporan dari Euronews Next mengungkap kulkas, sistem pemanas, dan sistem keamanan kini terhubung ke internet supaya dapat dipantau dari jarak jauh. Dengan begitu, pemilik toko dapat mengelolanya dengan lebih mudah.

Secara teori, perangkat apa pun yang terhubung ke internet, baik melalui aplikasi maupun jaringan cloud, berpotensi diretas.

Setelah berhasil masuk ke jaringan, peretas dapat mengumpulkan informasi atau mengendalikan perangkat dengan mengubah pengaturannya. Mereka juga dapat mengunci pengguna agar tidak dapat mengakses akun mereka atau bahkan mematikan perangkat sepenuhnya.