Dia menilai AI sudah banyak digunakan dalam pengaturan dan pengawasan obat-obatan di China, sehingga Indonesia bisa belajar dari hal itu.
"AI adalah alat bantu untuk memudahkan kita karena dengan pekerjaan yang jumlahnya jutaan, bahkan miliaran, bisa lebih cepat. Lebih efisien, kan? Itu membantu. Yang kedua, 'human error-nya' berkurang," ungkap Ikrar.
Selain itu penggunaan AI, menurut Ikrar, juga dapat membantu untuk melacak obat yang beredar.
"Lewat AI, artificial intelligence, kita bisa lacak misalnya dengan menggunakan 'barcode', jadi tahu produknya sudah sampai di mana, produknya digunakan di mana? Siapa penggunanya? Dan lainnya, itu justru lebih aman. Jadi AI itu adalah alat, instrumen, tidak perlu takut, yang jelas, Badan POM sudah memastikan kita tidak akan mengesahkan sesuatu yang tidak aman," tegas Ikrar.
Saat menyampaikan materi soal "AI + New Medical Technology Conference" dalam seminar "International Biomedical Industry Innovation Conference Beijing Forum" yang diselenggarakan oleh Universitas Tsinghua, Ikrar mengatakan AI dapat membantu regulator meningkatkan efisiensi, mempermudah proses sertifikasi, serta menjadikannya lebih efektif dan praktis.