"Di BPOM, di bawah kepemimpinan saya, kami telah menerapkan kecerdasan buatan dalam berbagai proses, mulai dari sistem 'bar code' dan proses registrasi hingga penelitian serta uji klinis yang dilakukan para ilmuwan," tambah Ikrar.

Setelah AI diterapkan di BPOM, Ikrar mengatakan data yang dihasilkan setiap tahun dapat dianalisis untuk menghasilkan standar yang lebih presisi.

"Dengan demikian, kami dapat lebih yakin bahwa suatu produk aman dan layak tersedia bagi masyarakat. Itulah peran kecerdasan buatan dalam pelaksanaan regulasi," ungkapnya.

Seluruh unit di BPOM, tambah Ikrar, juga telah menggunakan kecerdasan buatan dalam sejumlah bagian proses registrasi, sertifikasi, distribusi, dan lain-lain.

"Kecerdasan buatan sangat penting untuk membantu pengelolaan proses tersebut dan mengurangi kesalahan manusia karena teknologi ini dapat bekerja dengan lebih presisi. Untuk proses administrasi, kecerdasan buatan memang sangat berguna karena itu, pemerintah dan lembaga kami memperoleh pengakuan khusus atas penerapan sistem digital dalam pelayanan kepada masyarakat," jelas Ikrar.