Selama masa pengungsian, Suriati dan ratusan warga lainnya mendapatkan makanan-minuman tiga kali sehari dari Paroki Yesus Karahiman Ilahi Aeramo. Bahkan, para pengungsi dan umat gereja tersebut juga sempat memasak hingga makan bersama-sama.

"Saya sangat rasakan toleransi dan gotong-royong, terutama saat masak-memasak. Romo dan suster tidak membedakan kami saat makan itu," ujar Suriati.

"Saat mau makan, anak kecil hingga orang tua dipanggil oleh romo dan suster. Kami makan ramai-ramai. Rasanya seperti keluarga," imbuh perempuan berusia 28 tahun itu.