NADIKABAR.COM — Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia mendorong pemerintah untuk memaksimalkan pemadaman kebakaran dan hutan lahan (karhutla) di Kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, untuk menjaga ekosistem hingga pariwisata.
Chusnunia dalam keterangan di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa kebakaran yang melanda kawasan konservasi tersebut tidak hanya mengancam kelestarian ekosistem, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor pariwisata dan mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada kunjungan wisatawan.
“Pemerintah harus memaksimalkan upaya pemadaman dan memastikan tidak ada lagi titik api yang berpotensi meluas. Dampaknya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap pariwisata dan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan,” ucapnya.
Chusnunia mengatakan, berdasarkan data Balai TNWK, sepanjang bulan Januari hingga awal Oktober 2026 tercatat 21 kejadian kebakaran dengan luas area terdampak sekitar 7.000 hektare.
Ia menilai kebakaran dengan cakupan luas tersebut perlu menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi daya tarik wisata alam Way Kambas. Kerusakan vegetasi, asap, serta terganggunya habitat satwa juga berpotensi mengurangi kenyamanan dan keamanan kunjungan wisatawan.
Menurutnya, dampak tersebut perlu diantisipasi karena pariwisata alam tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan destinasi, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.
“Ketika kawasan wisata mengalami gangguan, masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas pariwisata juga bisa terkena dampaknya. Karena itu, penanganan karhutla harus dilihat secara menyeluruh. Kita tidak boleh membiarkan kerusakan lingkungan berlarut-larut hingga mengurangi daya tarik wisata dan memukul ekonomi warga,” katanya.
Ia pun meminta pemerintah dan pengelola TNWK memastikan informasi mengenai kondisi kawasan, akses kunjungan, serta aspek keselamatan wisatawan disampaikan secara berkala melalui kanal resmi.
Ia juga mendorong pemerintah daerah, pengelola taman nasional, pelaku usaha pariwisata, dan masyarakat desa penyangga untuk berkoordinasi dalam menjaga keberlangsungan aktivitas wisata.
Legislator dari komisi DPR yang membidangi pariwisata tersebut turut menegaskan bahwa pekerjaan pemerintah tidak boleh berhenti setelah api berhasil dipadamkan.
Pemulihan ekosistem dan habitat alami di kawasan yang terbakar harus menjadi bagian penting dari penanganan pascakarhutla agar fungsi konservasi dan daya tarik wisata alam Way Kambas dapat dipulihkan secara bertahap.
Menurutnya, pemulihan harus diawali dengan pemetaan tingkat kerusakan kawasan, pemeriksaan kondisi vegetasi, serta pemantauan keberadaan dan pergerakan satwa liar.
“Setelah api padam, jangan sampai kawasan yang terbakar dibiarkan begitu saja. Harus ada pemetaan kerusakan, pemantauan satwa, dan program pemulihan habitat yang terukur. Kita perlu memastikan ekosistem dapat pulih dan satwa liar tetap memiliki ruang hidup yang aman,” ucapnya.
Selain itu, ia juga meminta pemerintah mengevaluasi penyebab kebakaran, meningkatkan kesiapsiagaan petugas, memperkuat sarana pemadaman, serta menindak tegas pihak yang terbukti melakukan pembakaran hutan secara melawan hukum.
Dirinya pun berharap penanganan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemadaman, pencegahan, pemulihan habitat, hingga penguatan kembali pariwisata yang berkelanjutan.
“Way Kambas memiliki nilai penting bagi konservasi sekaligus pariwisata Lampung. Menjaga kawasan ini berarti menjaga habitat satwa, melindungi lingkungan, dan mempertahankan sumber penghidupan masyarakat,” ucapnya.