Selain produk Dwi, gerai KKMP Dadapsari menampung beragam produk UMKM lain, mulai dari pangsit, cheese stick, roti, kue kering, rempeyek, wingko, hingga madu.
Untuk memperluas pemasaran produk, pihak kelurahan membantu mengenalkannya kepada masyarakat melalui jaringan komunikasi setempat. Pengelola KKMP juga mulai diarahkan memanfaatkan WhatsApp Business agar calon pembeli dapat melihat katalog produk secara digital.
Upaya memperluas pemasaran melalui kanal digital juga dilakukan KKMP Banjarsari, Kota Surakarta. Jika KKMP Dadapsari mulai memanfaatkan WhatsApp Business, KKMP Banjarsari mengembangkan pendekatan melalui aplikasi MyKopkel dan marketplace KKMP.
Sekretaris KKMP Banjarsari, Jampit Ludiro Sri Pamungkas mengatakan pemanfaatan platform digital menjadi salah satu upaya untuk memperkuat hubungan dengan anggota sekaligus mendukung pemasaran produk UMKM.
"Kami memanfaatkan platform digital untuk menjawab tantangan zaman. Aplikasi MyKopkel menjadi media interaksi sekaligus sarana transparansi lembaga kepada anggota dan masyarakat," tutur Jampit.
Menurut Jampit, sebelum bergabung dengan KDKMP, pelaku UMKM memasarkan produk melalui penjualan langsung, platform digital pribadi, maupun pameran yang diselenggarakan pemerintah daerah dan pihak swasta. Kehadiran KKMP kemudian menambah pilihan saluran pemasaran bagi para pelaku usaha tersebut.
"Berdasarkan informasi dari pelaku UMKM, omzet mereka mengalami peningkatan. Pemasaran digital lewat aplikasi membantu menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan potensi transaksi," ucapnya.
Peluang kemitraan dengan UMKM juga dikembangkan KDMP Cipelang di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Koperasi tersebut mengembangkan sejumlah unit usaha, termasuk pengolahan limbah plastik menjadi produk bangunan serta kerja sama pemasaran produk UMKM desa.
Ketua KDMP Cipelang, Rita Puspita Sari, menjelaskan Koperasi Desa Merah Putih membuka peluang kerja sama bagi pelaku UMKM agar produk mereka dapat dipasarkan melalui jaringan usaha KDMP. Sejumlah produk yang dikembangkan masyarakat setempat antara lain olahan nanas, oncom hideung, makanan ringan, dan kopi.
"Betul. Jadi, kita membuka peluang kerja sama dan merangkul para UMKM. Selain menjadi anggota, mereka juga terlibat di dalamnya," tutur Rita, dikutip dari NadiKabar.
Dukungan terhadap kegiatan KDMP Cipelang juga datang dari pemerintah desa. Kepala Seksi Pembangunan Desa Cipelang, Iwanudin, menyebut KDMP telah mulai menjalankan sejumlah kegiatan dan diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas setelah unit usahanya berkembang.
"Tentunya, setelah nanti beberapa gerai bisa dimanfaatkan dan diresmikan, mungkin bisa berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat Desa Cipelang. Baik UMKM bisa dititipkan, kerajinan-kerajinan bisa direkrut di KDMP," ungkap Iwanudin.
Contoh di Banjarsari, Dadapsari, dan Cipelang menunjukkan bahwa koperasi dapat memberikan manfaat melalui berbagai cara, mulai dari penyediaan kebutuhan pokok hingga pembukaan akses pemasaran bagi produk lokal. Namun, keberlanjutan manfaat tersebut tetap bergantung pada pengelolaan koperasi, pengembangan unit usaha, dan kemitraan dengan pelaku UMKM.
Berawal dari Modal Terbatas, Dadapsari Kembangkan Usaha
Pengembangan KKMP Dadapsari juga terlihat dari perjalanan usahanya yang dimulai dengan modal terbatas. Pengurus KKMP, Broto Suyono, mengatakan kegiatan awal koperasi melibatkan sembilan orang dengan modal sekitar Rp 540 ribu yang berasal dari simpanan anggota.