Untuk menjaga keterjangkauan keanggotaan, pengurus menetapkan simpanan pokok sebesar Rp 50 ribu dan simpanan wajib Rp 10 ribu per bulan. Pada awal operasional, KKMP berupaya mengembangkan modal melalui penjualan kebutuhan pokok, terutama beras. Keuntungan yang diperoleh digunakan untuk menambah persediaan barang dan mendukung kegiatan usaha berikutnya.

Seiring perkembangan usaha, pengurus menambah persediaan barang dan mengajak masyarakat bergabung sebagai anggota. Broto menyebut jumlah anggota yang semula sembilan orang bertambah menjadi 103 orang pada Desember, sedangkan omzet KKMP pada bulan tersebut mencapai lebih dari Rp 125 juta.

"Dan mulai itu, berdatangan, bertambah anggota, hingga yang semula sembilan orang itu, Desember itu kita anggota sudah 103 orang. Nah, itu dengan iuran tadi segitu, dan tertarik mereka, dan omzet kita Desember itu sudah Rp125.000.000 lebih," tuturnya.

Koperasi Mengembangkan Usaha dan Pemasaran Produk Lokal

Selain pertumbuhan jumlah anggota, perkembangan KKMP Dadapsari juga terlihat dari penjualan kebutuhan pokok dan pemasaran produk UMKM. Lurah Dadapsari Hesti Karyani menjelaskan KKMP tersebut memulai kegiatan dengan modal dari simpanan anggota dan terus mengembangkan layanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Omzet untuk momen Lebaran kemarin bisa mencapai sekitar Rp 100 jutaan. Penjualan kue-kue kering, sirup, dan kebutuhan parcel lainnya berjalan lancar seperti biasa," tuturnya.

Selain menjual kebutuhan pokok, KKMP Dadapsari juga membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produknya. Produk yang dititipkan didominasi makanan ringan yang menjadi salah satu komoditas dengan permintaan cukup tinggi.

"Ada juga yang menjual madu. Harapannya ke depan semakin banyak UMKM yang menitipkan produknya di koperasi ini," ujar Hesti.

Hesti menambahkan, pemasaran produk juga dilakukan melalui penjualan langsung dan jaringan komunikasi kelurahan, PKK, RT, serta RW. Pengelola juga mulai diarahkan menggunakan WhatsApp Business agar masyarakat dapat melihat katalog produk secara digital.

KKMP Dadapsari juga menyediakan layanan pembayaran melalui QRIS, pembayaran berbagai tagihan, serta transfer uang. Selain itu, koperasi menyediakan bahan baku dengan harga yang dinilai lebih terjangkau untuk mendukung kebutuhan pelaku usaha.

Pemerataan Akses Internet Mendukung Pemanfaatan Digital

Pemanfaatan kanal digital oleh KDKMP dan UMKM untuk memperluas pemasaran serta menjangkau konsumen juga membutuhkan dukungan akses internet yang memadai dan terjangkau.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa pemerataan akses digital tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan jaringan, tetapi juga kualitas layanan dan keterjangkauan biaya internet. Menurutnya, penguatan konektivitas perlu diarahkan pada daerah padat penduduk agar masyarakat dapat menikmati layanan dengan biaya lebih terjangkau dan akses yang lebih merata.

Dalam konteks koperasi dan UMKM, akses internet yang terjangkau berpotensi membantu pelaku usaha memperbarui katalog produk, mempromosikan barang melalui kanal digital, serta berkomunikasi dengan pelanggan di luar lingkungan sekitar.

Pengalaman Banjarsari, Dadapsari, dan Cipelang menunjukkan bahwa KDMP dapat menjadi pilihan belanja kebutuhan pokok, alternatif pasokan bahan baku, sekaligus sarana pemasaran produk UMKM lokal. Agar manfaat tersebut berkelanjutan, pengembangan KDMP perlu didukung pengelolaan yang konsisten serta strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kapasitas pelaku usaha setempat.