Dari sisi pembiayaan, Deon memperkirakan pembangunan PLTS berkapasitas 100 GW membutuhkan investasi mendekati US$80 miliar atau setara Rp1.453,52 triliun (asumsi kurs Rp18.169 per dolar AS) untuk proyek skala utilitas. Angka tersebut berpotensi meningkat menjadi lebih dari US$100 miliar atau Rp1.816,80 triliun apabila kebutuhan penyimpanan energi dan jaringan transmisi turut diperhitungkan.

Kebutuhan investasi itu jauh lebih besar dibandingkan realisasi investasi energi terbarukan Indonesia yang saat ini baru sekitar US$2 miliar hingga US$3 miliar.

Karena itu, pembiayaan tak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga membutuhkan investor swasta, lembaga pembangunan multilateral, serta kerja sama dengan negara lain.

Deon menilai Indonesia juga perlu membangun kapasitas riset dan sumber daya manusia (SDM) agar tidak hanya bergantung pada transfer teknologi dari negara mitra. Riset diperlukan untuk menyesuaikan teknologi baterai dengan kondisi iklim, karakteristik jaringan listrik, serta pola penggunaan energi di Indonesia.

Ia turut menyoroti perlunya strategi pengembangan tenaga ahli, termasuk menghubungkan program beasiswa luar negeri dengan kebutuhan industri. Laboratorium industri di sejumlah perguruan tinggi juga dinilai dapat diarahkan untuk mengembangkan teknologi BESS, termasuk pemanfaatan nikel sebagai bahan baterai penyimpanan energi.

"Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan kerja sama dan transfer teknologi. Kita juga harus berinvestasi dalam riset dan pengembangan, dengan mempertimbangkan sumber daya, iklim, serta kondisi yang berbeda di Indonesia," ujar Deon.

Ia menambahkan kerja sama dengan Korea Selatan perlu diarahkan agar Indonesia dapat menguasai dan mengembangkan teknologi, bukan sekadar menjadi pengguna.

Salah satu opsi yang dapat ditempuh adalah mendorong investasi riset bersama hingga kepemilikan kekayaan intelektual bersama atau joint intellectual property.

"Dengan kerja sama Korea yang membawa teknologi ke Indonesia, untuk dapat memiliki teknologi tersebut, Indonesia juga perlu melakukan investasi dan mungkin mengusulkan kepemilikan kekayaan intelektual bersama," jelasnya lebih lanjut.