Kemudian, pada minggu kedua Oktober 2026, tim analis meyakini MT Global 168 sedang melakukan transaksi ship-to-ship di perairan Andaman. Jenderal Suyudi mengatakan keyakinan itu didukung indikasi kapal mematikan Automatic Identification System (AIS) selama 3 hari 17 jam agar tak terdeteksi aparat penegak hukum.
"Modus-modus para penyelundup itu selalu mematikan AIS, ya, pada saat mereka sedang transaksi. Nah, tapi ini jadi bagus juga buat kita, ya, kita jadi bisa membaca sebuah anomali yang perlu kita ikuti," paparnya.
Pada Rabu (14/10), pukul 12.31 hingga 13.25 WIB, kapal terpantau melintasi bagian tengah Selat Malaka ke arah barat laut, sejajar dengan perairan Perak atau Taiping, Malaysia. Kecepatan kapal tercatat stabil pada kisaran 5,5-6 knot.
Kemudian pada Kamis (15/10), pukul 02.26 WIB, kapal kembali terpantau melintasi bagian tengah Selat Malaka ke arah barat laut dengan kecepatan menurun. Pukul 10.32, kapal melanjutkan pelayaran menuju bagian utara Selat Malaka atau perairan terbuka.
Pada pukul 22.28 hingga 23.55 WIB, kapal terpantau berada di perairan lepas pantai utara Aceh atau Langsa dengan kecepatan 5-5,5 knot.
Pada Jumat (16/10), pukul 00.57 hingga 04.50 WIB, kapal bergerak dengan kecepatan sekitar 4,9 knot di perairan utara. Pukul 05.37 WIB, kapal tiba di perairan terluar barat Thailand, sekitar lepas pantai Trang atau Palian, dan melakukan manuver memutar atau looping pattern disertai penurunan kecepatan.
Pada pukul 14.50 WIB, sinyal AIS mencatat kecepatan kapal sekitar 4,9 knot. Selanjutnya, pada pukul 18.57 hingga 20.57 WIB, kapal mengubah arah ke tenggara atau selatan menuju area labuh jangkar.