NADIKABAR.COM — Lakshmi Mittal mengubah peta industri baja dunia setelah merintis dan mengembangkan sebuah pabrik baja kecil di Indonesia menjadi ArcelorMittal.

Kini, ArcelorMittal menjelma menjadi produsen baja terbesar dunia. Seiring dengan digdayanya bisnis ArcelorMittal, pundi-pundi kekayaan Mittal pun melesat naik.

Forbes menaksir hartanya tembus US$29,2 miliar atau setara Rp529 triliun (asumsi kurs Rp18.105 per dolar AS). Ia berada di peringkat ke-79 orang terkaya sejagat raya versi Forbes.

Perjalanan panjang Mittal di industri baja dimulai pada 1976, sekaligus menjadi titik awal pembangunan kerajaan bisnisnya di berbagai negara.

Mittal membangun bisnisnya dari nol. Naluri bisnis yang kuat dan strategi akuisisi yang cermat mengantarkannya pada pencapaian terbesar, yakni mengakuisisi Arcelor senilai US$33 miliar pada 2006.

Kesepakatan tersebut melahirkan perusahaan produsen baja terbesar di dunia sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemimpin bisnis global.

Puncak kesuksesannya terjadi pada 2008 ketika kekayaan bersihnya mencapai US$45 miliar atau Rp814,75 triliun. Angka tersebut menempatkannya sebagai orang terkaya keempat di dunia saat itu.

Perusahaan memperkirakan permintaan baja akan terus tumbuh di sejumlah pasar utama di bawah kepemimpinan baru. Putranya, Aditya Mittal, mengambil alih jabatan CEO pada 2021.

Sementara itu, Mittal beralih menjadi ketua eksekutif (executive chairman) untuk mengarahkan strategi perusahaan.

Mittal masih warga negara India. Namun, ia dilaporkan tinggal di Swiss usai puluhan tahun menetap di London, Inggris.

Ia menikah dengan Usha Mittal dan dikaruniai dua anak, yakni Aditya Mittal dan Vanisha Mittal Bhatia. Putranya menjabat CEO ArcelorMittal sejak Februari 2021. Sementara, Vanisha menjabat sebagai direktur ArcelorMittal.

Lakshmi Niwas Mittal lahir pada 15 Juni 1950 di Sadulpur, Rajasthan, India. Ia berasal dari keluarga Hindu Marwari yang hidup sederhana.

Masa kecilnya jauh dari kemewahan. Sebanyak 20 anggota keluarganya tinggal bersama dalam sebuah rumah yang dibangun oleh kakeknya. Mereka tidur di atas dipan berbahan tali dan memasak menggunakan tungku api terbuka.

Sang kakek bekerja untuk Tarachand Ghanshyam Das, salah satu perusahaan industri terkemuka milik komunitas Marwari sebelum India merdeka.

Pada 1960-an, keluarga Mittal pindah ke Calcutta (sekarang Kolkata) untuk mencari peluang hidup yang lebih baik. Ayahnya menjalankan pabrik baja di sana.

Ia menempuh pendidikan di Shri Daulatram Nopany Vidyalaya pada 1957-1964 dan tergolong siswa berprestasi.

Namun, ia sempat menghadapi hambatan ketika St. Xavier's College menolak permohonan masuknya karena kemampuan bahasa Inggrisnya dinilai masih terbatas.

Tak patah arang, Mittal meyakinkan kepala sekolah dengan berjanji menguasai bahasa Inggris dalam waktu satu tahun. Janji itu berhasil ditepati.

Ia bahkan menjadi lulusan terbaik di institusinya, dengan predikat first-class honors dalam program sarjana perdagangan (Bachelor of Commerce/B.Com) dari St. Xavier's College, Universitas Calcutta.

Perkenalan Mittal dengan industri baja bermula lewat perusahaan milik ayahnya, Mohanlal Mittal, yakni Nippon Denro Ispat.

Mittal membagi waktunya antara pendidikan dengan bekerja di perusahaan ayahnya pada usia 19 tahun. Siang hari ia berkuliah, lalu malamnya bekerja di pabrik baja.

Bermula dari Pabrik di Sidoarjo. (Foto: AFP/LUDOVIC MARIN)

Setelah lulus pada 1970, dia bergabung dengan bisnis keluarga sebagai 'anak magang'. Pengalaman langsung dalam proses produksi baja inilah yang menjadi fondasi bagi kesuksesannya di kemudian hari.

St. Xavier's College juga berperan penting dalam membangun kepercayaan diri Mittal untuk mengambil keputusan besar, terutama ketika memutuskan pindah ke Indonesia pada 1976 dan mendirikan pabrik baja miliknya sendiri.

Ia membangun pabrik PT Ispat Indo di Sidoarjo, Jawa Timur. Pada 2004, perusahaan itu digabung ke jaringan bisnis internasional dan membentuk nama baru Mittal Steel, yang nantinya berubah lagi menjadi AncelorMittal.

Mittal menghabiskan lebih dari satu dekade untuk mempelajari cara mengelola pabrik tersebut secara efisien.

Pada 1989, ia membeli pabrik baja milik pemerintah Trinidad dan Tobago yang tengah krisis dan rugi besar. Setahun kemudian, pabrik tersebut berhasil menggandakan produksinya dan mulai cuan.

Mittal menerapkan strategi serupa dalam serangkaian akuisisi di berbagai negara. Ia membeli perusahaan-perusahaan rugi, mayoritas perusahaan negara, kemudian mengirimkan tim manajemen khusus untuk melakukan restrukturisasi dan membenahi operasional bisnis tersebut.

Meskipun permintaan baja tinggi, produsen baja berskala kecil kesulitan mendapatkan kesepakatan bisnis yang kompetitif dengan klien-klien besar mereka, terutama produsen mobil dan peralatan rumah tangga.

Untungnya, perusahaan Mittal menguasai sekitar 40 persen pasar baja canai datar (flat-rolled steel) di Amerika Serikat (AS), yang digunakan untuk memproduksi mobil. Posisi tersebut memungkinkan perusahaan raksasa baja itu menegosiasikan harga yang lebih menguntungkan.

Pada 2004, Mittal menggabungkan perusahaannya, Ispat International dan LNM Holdings, serta mengakuisisi International Steel Group yang berbasis di Ohio, AS. Perusahaan baru hasil kesepakatan tersebut, Mittal Steel Co. NV, kemudian menjadi produsen baja terbesar di dunia.

Dua tahun kemudian, Mittal kembali mengawasi proses merger ketika Mittal Steel bergabung dengan Arcelor, perusahaan Luksemburg yang sebagian sahamnya milik pemerintah, untuk membentuk ArcelorMittal.

ArcelorMittal adalah perusahaan produsen baja yang menjadi perusahaan baja terbesar di dunia. Kantor pusatnya berada di Kota Luksemburg, Luksemburg.

Kala itu, Mittal menjabat sebagai CEO perusahaan gabungan tersebut hingga 2021, lalu mundur. Meski demikian, dia tetap menjabat sebagai executive chairman atau ketua eksekutif perusahaan.

Mittal nampaknya sosok crazy rich yang enggan tampil di media. Namun namanya kerap menjadi pemberitaan karena pengeluarannya yang fantastis. Misalnya, saat ia membeli rumah dengan 12 kamar tidur di London seharga US$128 juta atau Rp2,32 triliun.

Ia juga pernah menjadi pemberitaan saat merogoh kocek US$60 juta, setara Rp1,09 triliun untuk pernikahan putrinya di Paris pada 2004.

Selain itu, Mittal pernah menyumbang sekitar US$180 ribu atau Rp3,26 mliar kepada Partai Buruh Inggris (Labour Party) pada 2001. Donasi itu menuai kontroversi karena terjadi setelah terungkap Perdana Menteri Inggris saat itu, Tony Blair, membantu Mittal membeli sebuah perusahaan baja di Rumania.

Kontroversi juga muncul lantaran perusahaan-perusahaan Mittal mendukung kebijakan tarif baja Amerika Serikat, yang justru ditentang oleh produsen baja Inggris.