NADIKABAR.COM — Gemerlap Pesta Biru Persib Bandung menyambut musim 2026/2027 menyisakan pekerjaan yang tidak sedikit. Kemegahan launching skuad dan jersey baru Maung Bandung dinilai harus berbanding lurus dengan peningkatan prestasi serta profesionalisme klub.
Mengusung tema 'Manah Jeung Getih', Pesta Biru menjadi panggung untuk memperkenalkan skuad dan jersey anyar Persib. Namun, agenda tersebut bukan sekadar seremoni. Maung Bandung membawa target besar setelah mencatat sejarah sebagai juara liga tiga musim beruntun dan kini membidik gelar keempat pada musim 2026/2027.
Di tengah ekspektasi tersebut, Bobotoh yang juga anggota DPRD Jawa Barat, Zaini Shofari, mengapresiasi konsep peluncuran yang dinilainya semakin menunjukkan wajah Persib sebagai klub sepak bola modern.
"Tentu amazing buat kita sebagai Bobotoh menyaksikan tim Persib apa bikin acara launching pemain semegah dan semewah itu," kata Zaini, Rabu (26/8/2026).
Menurut Zaini, kemegahan acara tersebut terlihat dari konsep penyelenggaraan hingga cara manajemen memberikan pengalaman berbeda kepada Bobotoh.
Harga tiket dalam bentuk PO jersey players issue yang mencapai Rp1,2 juta dan Rp1,6 juta, juga menunjukkan adanya nilai komersial yang mulai dimainkan Persib secara serius.
"Semegah itu karena dilakukan secara benar-benar ditata. Semahal itu karena orang yang nonton ke situ tuh dihargai untuk bayar Rp1,2 juta dan Rp1,6 juta. Kursinya pun 1.500 untuk sekelas launching itu begitu luar biasa gitu," terangnya.
Namun, bagi Zaini, keberhasilan mengemas launching secara mewah tidak boleh berhenti sebagai pertunjukan. Kemampuan Persib mengelola bisnis harus menghasilkan sesuatu yang lebih konkret bagi klub, terutama prestasi dan pembangunan fondasi jangka panjang.
"Jadi tentu ini harus berdampak bukan saja pada prestasi, tapi pada konsistensi. Sudah juara tiga kali, total lima kali," tegas Zaini.
Zaini menilai peningkatan nilai komersial Persib seharusnya diikuti dengan pembenahan fasilitas. Menurutnya, klub perlu terus meningkatkan kualitas tempat latihan, fasilitas pertandingan, hingga sarana pembinaan pemain muda.
"Tentu ini secara kapital harus selalu bisa menguntungkan termasuk juga membuat fasilitas-fasilitas latihan yang jauh lebih baik, lebih bagus, tribun penontonnya terus diperbaiki, dimodernisasi," ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pembinaan pemain usia dini. Sebab, kekuatan klub dalam jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mendatangkan pemain berkualitas, tetapi juga seberapa serius klub mencetak talenta sendiri.
"Dan tentu pembinaan-pembinaan anak-anak usia dini harus jauh lebih diperhatikan," ucapnya.
Persib menurut Zaini mulai memasuki fase ketika sepak bola tidak lagi sekadar soal pertandingan 90 menit. Dengan kekuatan komersial yang terus berkembang dan dukungan sponsor yang besar, Persib dinilai memiliki modal untuk membangun klub dengan standar yang semakin tinggi.
"Bukan tidak mungkin kalau sekarang industri sepak bola itu Persib sudah mulai memainkan perannya, bukan tidak mungkin Persib bakal seperti klub-klub kelas Eropa dengan 16 jumlah sponsor itu begitu luar biasa. Jadi tidak ada kata lain kalau prestasi Persib harus turun (prestasinya)," tuturnya.
Beban Persib musim ini pun semakin berat. Selain mempertahankan dominasi di kompetisi domestik, Maung Bandung akan menjalani persaingan di level Asia melalui AFC Champions League Two serta ASEAN Club Championship.
Karena itu, Zaini berharap kemegahan Pesta Biru menjadi titik awal untuk menjaga standar Persib sepanjang musim, bukan hanya pada malam peluncuran.
"Jadi betul-betul saya mengapresiasi buat manajemen dan mudah-mudahan pemain juga semua termasuk Bobotoh terutama kalau di stadion harus juga bisa menjaga diri dan sama-sama semua saling mengingatkan," pungkasnya.