Rerie mencontohkan R.A. Kartini yang gagasannya dalam surat-surat masih menjadi rujukan bagi perempuan hingga kini. Ia juga menyebut Ida B. Wells, Anne Frank, dan Virginia Woolf sebagai perempuan yang meninggalkan catatan pemikiran dan pengalaman yang menjadi pijakan perjuangan lintas generasi.
"Kerja-kerja di lapangan tanpa catatan dan tulisan akan sangat mudah dilupakan. Perempuan tidak cukup hanya menjadi bagian dari cerita, tetapi harus mampu menulis cerita itu sendiri," tegas Rerie yang juga Anggota Komisi X DPR RI.
Ia menjelaskan, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan juga cara menyampaikan pengalaman, pemikiran, dan ketidakadilan. Melalui tulisan, perspektif perempuan diharapkan turut menjadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan.