Jika organik maka sampah diolah menjadi eco-enzyme atau budidaya maggot.

"Maggot ini kan sedang viral-viralnya ya, karena banyak proteinnya dan tinggi akan proteinnya. Jadi, saya kasih maggot itu sebagai wadah budidaya," katanya.

Sementara itu, sampah anorganik yang telah dipilah dijadikan bahan untuk kerajinan tangan. Salah satunya adalah karpet yang terbuat dari bungkus kopi atau bungkus kemasan lainnya.

"Kami membuat karpet karena sekolah kami ini sudah adiwiyata dan kami sering juga membuat workshop bagi teman-teman kami yang masih bingung gimana sih cara membuat karya dari sampah anorganik," terangnya.

Lilia meyakini bahwa untuk mengajak teman-teman lainnya untuk memilah dan mengolah sampah, harus ada representasi terlebih dahulu. Representasi itu dimulai dengan aksi dari diri sendiri yang menunjukkan hal positif dan mampu memberikan dampak.

"Saya pamerkan ke teman-teman saya, 'Aku kasih MBG ke maggot loh, kasih sampah daun atau sampah buahnya ke maggot .' Dan mereka tertarik. Mereka langsung mengumpulkan jika mereka punya sampah organik dari rumah," ucap Lilia.