Dengan kemenangan Lula da Silva, maka Brasil mampu membendung gelombang konservatif yang telah melanda sejumlah negara Amerika Latin, seperti Argentina, Chile, Kolombia, dan Peru, yang semuanya bergeser ke haluan sayap kanan dengan dukungan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Veteran Politik yang Sempat Gagal Berkali-kali dalam Pilpres
Dengan usianya akan menginjak 81 tahun pada Selasa (27/10), Lula da Silva sudah sangat veteran dan sangat berpengaruh dalam kancah perpolitikan Brasil, setidaknya selama empat dekade. Kemenangannya dalam pilpres tahun ini menjadi babak akhir yang sensasional dalam perjalanan karier politiknya yang panjang.
Karier politik Lula da Silva bermula saat dia muncul sebagai pemimpin serikat buruh di kawasan industri pinggiran Sao Paulo pada akhir tahun 1970-an.
Sebelum terjun ke dunia politik, Lula da Silva yang lahir dalam kemiskinan ini pernah bekerja sebagai tukang semir sepatu dan penjual kacang, sebelum akhirnya menjadi pekerja pabrik logam dan aktivis serikat buruh. Pada tahun 1960-an, dia kehilangan salah satu jari tangannya akibat kecelakaan kerja.
Usai terjun ke dunia politik, Lula da Silva sempat tiga kali gagal dalam pilpres Brasil -- tahun 1989, tahun 1994, dan tahun 1998 -- sebelum akhirnya terpilih sebagai Presiden pertama Brasil yang berasal dari kelas pekerja pada tahun 2002. Dia menjabat selama dua periode dan mengakhiri jabatannya sesuai dengan batas maksimal yang diizinkan oleh Konstitusi Brasil.