Lula da Silva mengakhiri masa jabatannya pada tahun 2010 lalu sebagai pahlawan bagi kaum pekerja, setelah berhasil memimpin Brasil di tengah lonjakan ekonomi berbasis komoditas yang mampu mengentaskan 30 juta orang keluar dari kemiskinan.
Skandal korupsi besar-besaran kemudian membayangi Lula da Silva dan partainya, memicu gelombang kekecewaan publik yang kemudian mengantarkan Jair Bolsonaro, ayah dari Flavio Bolsonaro, ke kursi kepresidenan tahun 2018.
Lula da Silva sempat dipenjara sebelum pilpres berlangsung, hingga akhirnya dakwaan yang menjeratnya dibatalkan karena alasan prosedural dan hakim utama dalam kasusnya dinyatakan tidak objektif. Meski demikian, Lula da Silva tidak sepenuhnya dinyatakan bersih dari tuduhan dan skandal itu terus membayanginya.
Masa kepresidenan Bolsonaro justru membawa perpecahan yang lebih dalam di Brasil. Pada pilpres tahun 2022, Lula da Silva kembali ke panggung politik secara dramatis setelah berhasil menang tipis atas Bolsonaro, yang menjadi kandidat petahana.
Bolsonaro menolak kekalahannya dan kemudian dijebloskan ke penjara setelah dinyatakan bersalah atas dakwaan merencanakan kudeta terhadap Lula da Silva.
Lula da Silva berhasil mempertahankan kekuasaannya setelah unggul atas Flavio Bolsonaro dalam pilpres pada 25 Oktober waktu setempat. Sama seperti ayahnya, Flavio Bolsonaro menolak untuk mengakui kekalahan dan menyatakan akan mengajukan pembatalan pemilu ini.