Padi yang ditanam, lanjut Sugio, adalah jenis Hibrida 32. Padi ini memiliki masa panen 110 hari. Sugio pun menjelaskan cara tanam padi ini dengan media galon.

"Perawatannya gampang banget. Perawatannya begitu kita tanam yang penting airnya itu macak-macak. Macak-macak itu hanya sedikit, jemek-jemek itu loh. Tidak perlu airnya itu penuh, tidak," urai Sugio.

"Begitu tanam airnya itu nyemek-nyemek sampai umur 30 sampai 40 hari. Kita kan nanamnya cuman satu (bibit per galon), pada nanam saat itu dia akan membentuk anakan-anakan. Nanti setelah umur 40-an hari baru kita kasih air genang, agak tergenang gitu loh," imbuhnya.

Satu bibit itu, kata Sugio, setelah 40 hari akan berkembang menjadi puluhan batang padi. Ketika sudah dewasa, 1 galon berisi 30 hingga 60 batang. Menurutnya, seluruh proses tidak menggunakan pupuk kimia maupun pestisida.

"Gunakan pupuk kandang toh, ditambah dengan air lele, itu kan ternak sendiri itu. Jadi kan nanti cucian air lele yang sudah apa sudah keruh banget kita ambil, kita siramkan. Nah jadi kan semua semua nggak terbuang toh," ujarnya.

"Kalau menggunakan galon ini praktis banget, air bisa diatur, pemupukan bisa diatur. Pupuk itu ndak lari kemana-mana, kalau di sawah ketika hujan atau irigasi mengalir tiba-tiba kan pupuknya hanyut. Kalau sini maksimal, full, istilahnya makanan yang diberikan dinikmati full oleh si padi," lanjutnya.

Hingga 90 hari usia padi di galon ini, Sugio mengaku belum menemukan kelemahannya. Bahkan menurutnya, bulir padi yang dihasilkan pun gemuk-gemuk. Hal itu juga divalidasi oleh seorang pengunjung yang membandingkan dengan padi yang ditanam di sawahnya.

"Kalau kelemahan saya terus terang belum melihat ya. Tadi Bapake (salah satu pengunjung) aja bilang, 'loh, sawahku kok kayak nggak seperti ini yo?', nah ternyata padi yang di galon itu tidak kalah sama yang di sawah," ungkap Sugio.