NADIKABAR.COM — Kuliah menjadi momen yang tepat untuk aktualisasi diri dan mencoba berbagai kegiatan. Namun, hal ini bisa menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai duck syndrome.

Fenomena duck syndrome dirujuk dari metafora seekor bebek yang mengapung anggun di permukaan air, tetapi di bawah air ia mengayuh dengan panik agar tidak tenggelam. Fenomena ini sering ditemukan di kalangan mahasiswa.

Mahasiswa cenderung ingin tampil serba kuat dan serba produktif. Tapi di balik semua itu, banyak yang merasa kewalahan.

Anisa Yuliandri, psikolog dari Career and Student Development Unit (CSDU) FEB UGM mengatakan duck syndrome pertama kali digunakan untuk mendefinisikan mahasiswa Stanford University yang tampak tenang meski sedang berada di bawah tekanan. Gambaran ini kerap ditemukan di berbagai kampus, tak terkecuali di Indonesia.

"Banyak mahasiswa merasa harus ambil semua kesempatan karena takut tertinggal. Takut kalau tidak ikut ini-itu nanti dibilang malas, tidak kompetitif, tidak punya masa depan," katanya dalam laman UGM dikutip Kamis (3/9/2026).