NADIKABAR.COM — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mendorong gerakan tanam cabai di berbagai daerah untuk memperkuat pasokan nasional, sekaligus menjaga kestabilan harga komoditas tersebut.
Dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Pangan, di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin, Tito mengatakan kenaikan inflasi bulanan Agustus hingga September 2026 terutama dipengaruhi kelompok makanan minuman dengan cabai sebagai penyumbang utama.
"Kita melihat (inflasi) month to month Agustus-September ada kenaikan sedikit, yaitu 0,30 persen. Dan penyumbang utamanya adalah sektor makanan minuman. Namun, sektor makanan minuman ini kita melihat yang utama adalah cabai, bukan makanan pokok, (tetapi) cabai rawit dan cabai merah," kata Tito lagi.
Menurut Tito, kenaikan harga cabai terjadi akibat berkurangnya produksi di sejumlah daerah sentra akibat kondisi kekeringan yang mempengaruhi produktivitas tanaman.
Pemerintah menilai penguatan produksi cabai melalui gerakan tanam menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga ketersediaan pasokan, sekaligus mengurangi tekanan harga.
Gerakan tanam cabai dapat dilakukan masyarakat melalui pemanfaatan lahan di desa, kelurahan, maupun kawasan perkotaan sebagai sumber tambahan pasokan pangan.
"Dikarenakan kekeringan, sehingga beberapa daerah produksi cabai rawitnya kurang. Sebenarnya bisa diatasi juga dengan menggenjot program tanam cabai yang banyak dilakukan di berbagai daerah, di desa-desa, di lurah-lurah, di kota," ujarnya.
Menurut Tito, peningkatan produksi cabai tidak hanya membantu pengendalian inflasi tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi petani ketika harga komoditas meningkat.
Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam mendorong masyarakat menanam cabai melalui berbagai program pemberdayaan yang sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.
Menurut Tito, ketersediaan cabai yang cukup di tingkat lokal akan membantu mengurangi ketergantungan pasokan dari daerah lain ketika terjadi gangguan produksi.
Tito optimistis kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam gerakan tanam cabai mampu memperkuat ketahanan pangan serta menjaga inflasi tetap terkendali.
Sebelumnya, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan pasokan cabai nasional mencukupi sampai akhir tahun dengan memperkuat distribusi pangan antardaerah, untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga saat perayaan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.
Sekretaris Utama Bapanas Ito Hediarto mengatakan ketersediaan cabai tidak menjadi persoalan menjelang momentum akhir tahun, namun pemerintah terus menjaga kelancaran distribusi terutama pengiriman dari daerah sentra produksi menuju wilayah konsumen.
"Yang perlu dijaga saat ini adalah kelancaran distribusi, terutama pengiriman lewat jalur laut," kata Ito terkonfirmasi di Jakarta, Kamis (22/10).
Untuk mengatasi persoalan distribusi, Bapanas menyediakan fasilitasi distribusi pangan (FDP). Program itu membantu memobilisasi pasokan dari daerah surplus ke daerah yang membutuhkan, sehingga beban biaya distribusi berkurang dan cabai bisa sampai ke konsumen dengan harga lebih terjangkau.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, Senin, yang dikelola Bank Indonesia, mencatat harga komoditas cabai rawit merah mencapai Rp100.550 per kilogram (kg).
Selanjutnya, PIHPS mencatat harga cabai merah besar mencapai Rp73.650 per kg, cabai merah keriting Rp84.100 per kg, dan cabai rawit hijau Rp80.600 per kg.