Prosesi belum selesai sampai di situ. Menurut Suparja, sekitar pukul 23.00 WIB, batang kayu tersebut kembali menjalani prosesi untuk dimasukkan lagi ke dalam balong.
Kayu itu dikenal masyarakat setempat dengan beberapa sebutan. Selain Buyut Kayu Perbatang Pangeran Mancur Jaya, warga juga menyebutnya sebagai Buyut Kayu Mati.
"Kalau kayu tersebut disebutnya Buyut Kayu Perbatang Pangeran Mancur Jaya atau Buyut Kayu Mati," tutur Suparja.
Hingga kini, tradisi pengangkatan Buyut Kayu Perbatang Pangeran Mancur Jaya kembali digelar. Sejumlah warga datang untuk menyaksikan dan mengikuti tradisi tersebut.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Judi Wahjudin, mengatakan tradisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang rutin dijalankan setiap tahun.
"Yang pertama, tentunya ini merupakan aset budaya yang penting karena kebudayaan itu milik masyarakat," kata Judi.
Menurut Judi, keberadaan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi. Apalagi, kegiatan tersebut tetap berjalan dengan gotong royong dan sudah berlangsung sejak lama.
"Jadi, kita hadir dan mengapresiasi kegiatan ini karena ini menunjukkan bahwa kebudayaan itu milik masyarakat dan dengan gotong royong apapun kondisinya tetap terlaksana dengan baik," ujarnya.